MALUKU — Selama ini, halaman SDN Pulo Panjang 2 selalu menjadi keluhan. Setiap turun hujan, genangan air membuat area sekolah becek dan licin. Sebaliknya, saat kemarau tiba, debu beterbangan mengganggu aktivitas belajar-mengajar.
Kondisi itu kini berubah total. PLN UID Banten memanfaatkan limbah batu bara dari PLTU Lontar—yang diolah menjadi FABA—untuk menata 12.800 paving block di seluruh halaman sekolah. Kepala SDN Pulo Panjang 2, Kamaludin, mengakui perubahan ini langsung menyulap wajah sekolah.
“Dulu halaman sekolah sering becek saat hujan dan berdebu ketika musim kemarau. Sekarang lingkungan sekolah jauh lebih nyaman dan tertata. Ini tentu memberikan semangat baru bagi anak-anak dalam belajar,” ujarnya.
Selain itu, PLN UID Banten menyerahkan bantuan laptop untuk mendukung proses belajar berbasis digital. Perlengkapan olahraga juga disalurkan untuk menunjang aktivitas fisik dan pengembangan bakat siswa. Kamaludin menyebut bantuan ini sebagai lompatan besar bagi sekolah di wilayah kepulauan.
“Pembangunan saung baca dan bantuan laptop menjadi langkah besar bagi sekolah kami. Fasilitas ini akan membantu siswa memperoleh akses belajar yang lebih luas dan meningkatkan kemampuan mereka menghadapi perkembangan teknologi,” tambahnya.
“Melalui program ini, kami ingin memastikan anak-anak di Pulo Panjang memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang layak dan berkualitas. Jarak geografis tidak boleh menjadi penghalang bagi mereka untuk meraih masa depan yang lebih baik,” kata Bobby.
Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4 tentang pendidikan berkualitas. Kolaborasi antara PLN UID Banten, LAZ Harfa, dan PLN PLTU Lontar menjadi contoh sinergi lintas sektor yang mampu menghadirkan harapan baru bagi anak-anak di wilayah kepulauan untuk belajar dan tumbuh.