MALUKU — Simulasi berlangsung di area rawan karhutla Kecamatan Rambah, Kabupaten Rokan Hulu, Riau. Dalam skenario yang diujikan, personel melakukan pemadaman menggunakan alat berat, pompa portabel, dan teknik pembuatan sekat bakar untuk mengendalikan api agar tidak meluas ke kawasan permukiman dan perkebunan warga.
Kapolres Rohul AKBP Budi Setiyono mengatakan latihan ini merupakan bentuk koordinasi rutin antara Polri, TNI, dan pemerintah daerah. "Kami ingin memastikan setiap personel memahami prosedur operasi standar dan mampu bergerak cepat begitu titik api muncul," ujarnya.
Pemkab Rohul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) turut menyiagakan dua unit helikopter water bombing dan 50 unit pompa jinjing. Selain itu, posko terpadu di lima kecamatan dengan tingkat kerawanan tinggi sudah mulai beroperasi sejak awal April.
Kepala BPBD Rohul, Ahmad Fauzi, menyebutkan 90 persen karhutla di wilayah itu dipicu aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara membakar. "Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dibanding tahun lalu akibat fenomena El Nino moderat," katanya.
Data BPBD mencatat pada 2023 luas lahan yang terbakar di Rohul mencapai 1.200 hektare. Angka ini meningkat 15 persen dibanding tahun sebelumnya. Ratusan warga dilaporkan mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap.
Polres Rohul mengingatkan bahwa pembakaran lahan secara sengaja dapat dikenakan sanksi pidana maksimal 10 tahun penjara berdasarkan Pasal 78 UU No. 41/1999 tentang Kehutanan. Patroli gabungan akan diintensifkan di titik-titik rawan, terutama pada siang hari saat suhu udara mencapai 34 derajat Celsius.
Pemkab juga mengimbau perusahaan perkebunan dan masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan api. "Kami akan menindak tegas pelaku pembakaran, baik perorangan maupun korporasi," tegas Ahmad Fauzi.
Simulasi ini dijadwalkan berlangsung secara berkala setiap pekan hingga September mendatang. Evaluasi teknis akan dilakukan setelah setiap latihan untuk menyempurnakan prosedur di lapangan.