Pernyataan mengejutkan datang langsung dari bos Xbox, Asha Sharma, dalam wawancara dengan Fortune baru-baru ini. Alih-alih menjanjikan lompatan performa spektakuler, Sharma justru menurunkan ekspektasi publik secara dramatis.
"Saya pikir kita telah mencapai titik di mana sulit membayangkan khalayak massal bisa menghabiskan ribuan dolar untuk satu generasi konsol," ujar Sharma. Ia menegaskan yang dibutuhkan bisnis konsol saat ini adalah "model bisnis baru," bukan sekadar "konsol paling premium dan berperforma tinggi di dunia."
Pernyataan ini menjadi pengakuan paling blak-blakan dari eksekutif Microsoft tentang dampak negatif dari hiruk-pikuk investasi AI. Permintaan global terhadap chip memori berkecepatan tinggi (HBM) dan RAM untuk server AI telah melonjak, membuat harga komponen untuk perangkat konsumen ikut meroket.
Sharma juga mengungkapkan bahwa Microsoft harus "berpikir sangat berbeda tentang storage dan memori ke depannya." Strategi yang dibayangkan termasuk teknik kompresi game yang lebih canggih dan opsi penyimpanan yang sangat fleksibel bagi pengguna.
Namun, pengamat menilai ide-ide tersebut belum konkret. Xbox sebenarnya sudah menawarkan opsi storage fleksibel melalui kartu ekspansi Seagate. Pertanyaan besarnya adalah seberapa efektif "game yang lebih kecil" bisa menjadi daya tarik jual di era di mana gamer terbiasa dengan grafis raksasa berukuran 100GB lebih.
Salah satu "model bisnis baru" yang paling mungkin adalah langganan cloud gaming. Sharma mengisyaratkan bahwa solusi mungkin datang dari streaming, di mana game di-render di server dan perangkat di rumah hanya perlu menerima video.
Logika ini didukung oleh Bryan Catanzaro, pionir DLSS Nvidia, yang dalam sesi GDC Maret lalu menyatakan bahwa "AI secara fundamental jauh lebih efisien di cloud." Jika model ini diadopsi, konsol rumahan bisa diproduksi dengan RAM dan SSD yang lebih kecil dan murah, sementara komputasi berat dipindahkan ke pusat data.
Tekanan yang dihadapi Xbox semakin nyata. Dalam surat terbuka kepada karyawan yang dirilis hari ini, Sharma kembali mengakui, "Kami saat ini tidak mampu memproduksi konsol sebanyak yang diinginkan pemain untuk dibeli." Namun, surat tersebut tidak memuat rencana spesifik untuk mengatasi masalah ini.
Ironisnya, masalah ini sebagian besar adalah luka yang ditimbulkan sendiri. Ambisi besar Microsoft di bidang AI, termasuk investasi miliaran dolar ke OpenAI, telah memonopoli pasokan chip dan memori yang seharusnya bisa digunakan untuk produk konsumen.
Krisis ini tidak hanya mengancam konsol. Harga PC gaming ikut tertekan. Valve, misalnya, belum mengumumkan harga Steam Machines terbaru, namun indikatornya sudah mengkhawatirkan: Steam Deck 1TB kini dijual seharga $950 (sekitar Rp 15,2 juta).
"Saya yakin gamer PC akan tetap menemukan cara untuk terus bermain, tapi mungkin akan ada musim dingin yang panjang di depan," tulis analis dalam laporan tersebut, mengingatkan para pengguna untuk menjaga baik-baik modul DDR5 mereka. Bagi konsumen Indonesia, situasi ini berarti konsol dan PC gaming generasi baru kemungkinan akan hadir dengan harga yang semakin tidak ramah kantong.