AMBON — Hujan deras yang mengguyur sejak pagi tidak menyurutkan langkah ribuan warga. Mereka datang bergelombang menuju Lapangan Merdeka, mengenakan jersey kebanggaan masing-masing. Tawa dan obrolan seputar prediksi skor terdengar bersahutan di sepanjang rute.
Ambon Color Fun Walk 2026 menjadi ajang yang menyatukan pendukung tim-tim besar dunia. Jersey oranye Belanda dan biru-putih Argentina mendominasi kerumunan. Namun, alih-alih memicu persaingan, perbedaan pilihan justru menjadi bumbu perayaan.
Para peserta berjalan berdampingan, berfoto bersama, dan saling bercengkerama. Suasana lebih menyerupai karnaval kota ketimbang sekadar kegiatan olahraga pagi hari.
Belanda dan Argentina memiliki basis pendukung terbesar di Ambon yang sudah berlangsung puluhan tahun. Dukungan terhadap kedua negara ini diwariskan lintas generasi, dari era para pemain legendaris hingga sekarang.
Novrat Nanulailla (35), pendukung Belanda yang mengenakan jersey oranye, optimistis tim kesayangannya bisa mengakhiri penantian panjang gelar juara dunia. "Setidaknya Belanda kali ini bisa membawa pulang Piala Dunia. Apalagi sudah ada prediksi dari seorang ekonom dunia yang tiga kali berturut-turut berhasil memprediksi juara," ujarnya.
Ia berharap kegiatan seperti Color Fun Walk terus digelar. "Pemkot Ambon di bawah kepemimpinan Pak Bodewin selalu mengapresiasi kegiatan yang damai, bukan yang membawa hal-hal tidak baik," tambahnya.
Dari kubu Argentina, Rina Latuheru (32) berharap Albiceleste mampu mengulangi prestasi sebagai juara dunia. "Argentina sudah memberi kami banyak kenangan indah. Sebagai juara sebelumnya, tentu kami berharap mereka bisa tampil maksimal," katanya.
Menurut Rina, semangat kebersamaan menjadi nilai paling penting. "Walaupun berbeda tim dukungan, semua bisa berjalan bersama dan menikmati suasana dengan gembira," ucapnya.
Di sekitar lokasi kegiatan, lapak-lapak UMKM dipadati pengunjung. Makanan, minuman, hingga produk lokal laris manis. Momen kebersamaan ini menjadi berkah tersendiri bagi pedagang kecil yang turut meramaikan suasana.
Warung kopi dan rumah-rumah warga di berbagai sudut kota juga berubah menjadi tempat nobar. Obrolan tentang peluang tim favorit mengisi keseharian masyarakat Ambon sejak jauh-jauh hari sebelum laga pertama dimulai.
Bagi warga kota ini, Piala Dunia bukan sekadar tontonan dari layar kaca. Ajang empat tahunan itu telah menjadi ruang perjumpaan yang mempererat persaudaraan dan menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang.
Pemerintah Kota Ambon melalui kegiatan ini ingin menegaskan bahwa fanatisme terhadap tim tertentu boleh saja kuat, namun kecintaan terhadap sepak bola tetap menjadi perekat sosial yang tak tergantikan di Kota Ambon.