MALUKU — Panitia penyelenggara BTN JAKIM 2026 mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui akun Instagram resmi @btn_jakim, Senin (15/6). Dalam unggahan itu, pihaknya menyampaikan belasungkawa dan menyebut korban merupakan peserta di kategori Le Minerale Half Marathon.
"Segenap panitia penyelenggara BTN Jakarta Internasional Marathon 2026 menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya atas berpulangnya salah satu peserta," demikian pernyataan resmi panitia yang dikutip pada Senin (15/6).
Korban diketahui meninggal pada Minggu (14/6) siang, saat perlombaan memasuki jam-jam kritis. Sejumlah peserta lain melaporkan pemandangan mencekam di rute, terutama setelah kilometer ke-17. Akun @risma*** di Threads menulis, "Mulai KM 17 banyak yang geletak di jalan, KM 20 sampai masuk GBK suara ambulansnya banyak banget."
Panitia sebelumnya telah mewanti-wanti potensi cuaca ekstrem. Dalam imbauan yang beredar sebelum acara, penyelenggara meminta pelari waspada terhadap serangan panas dan segera mencari tenda medis jika merasa tidak enak badan. "Kami sepenuhnya berkomitmen untuk memastikan respons medis yang aman dan lancar untuk semua orang," tulis akun BTN Jakim.
BTN JAKIM 2026 mempertandingkan empat kategori: 5 kilometer, 10 kilometer, 21 kilometer (half marathon), dan 42 kilometer (full marathon). Agus Putranadi tercatat sebagai peserta half marathon.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari detik.com, insiden peserta tumbang paling banyak terjadi di kategori marathon. Penyebabnya beragam, mulai dari cedera otot, heatstroke, hingga gagal memenuhi cut-off time (COT) dan cut-off point (COP) yang ditetapkan panitia.
Kematian peserta dalam ajang lari massal kembali menjadi perhatian. Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan mengenai standar kesiapsiagaan medis di lintasan, terutama saat cuaca panas ekstrem melanda Jakarta pada pertengahan Juni.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak keluarga korban maupun Dinas Kesehatan DKI Jakarta terkait penyebab pasti kematian Agus Putranadi. Panitia BTN JAKIM 2026 juga belum merilis laporan investigasi internal atas insiden tersebut.
Sebelumnya, sejumlah ajang lari internasional di Indonesia juga pernah mencatatkan insiden serupa, yang mendorong Asosiasi Penyelenggara Lari Indonesia (APLI) untuk menerbitkan panduan keselamatan yang lebih ketat bagi penyelenggara.