MALUKU — Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam keterangan resminya menekankan bahwa potensi likuefaksi tetap menjadi ancaman serius pascagempa utama. Meski getaran utama telah berlalu, ia meminta masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak lengah terhadap kemungkinan terjadinya pergerakan tanah susulan.
"Kami berharap fenomena tanah bergerak atau likuefaksi tidak terjadi. Namun, kewaspadaan harus tetap ditingkatkan karena kondisi tanah di Palu dan sekitarnya memang rentan," ujar Dwikorita.
Kerentanan Kota Palu terhadap likuefaksi bukan tanpa alasan. Wilayah ini berada di cekungan sedimen tebal dengan jenis tanah alluvial yang gembur. Ketika gempa berkekuatan besar terjadi, getaran menyebabkan butiran tanah kehilangan daya rekat dan berubah seperti cairan. Fenomena inilah yang menyebabkan kerusakan parah di Kelurahan Petobo dan Balaroa saat gempa 2018 lalu.
Data terbaru BMKG menunjukkan episenter gempa M6,7 kali ini berada di darat, sekitar 10 kilometer barat laut Kota Palu, dengan kedalaman 10 kilometer. Parameter ini dinilai cukup dekat dengan permukaan sehingga potensi dampak di permukaan, termasuk likuefaksi, perlu diantisipasi.
BMKG menginstruksikan jajarannya di daerah untuk terus memantau aktivitas gempa susulan. Hingga Selasa malam, tercatat lebih dari 15 kali gempa susulan dengan magnitudo bervariasi antara 2,5 hingga 4,8. Meski kekuatannya menurun, frekuensinya masih perlu diwaspadai.
Masyarakat diimbau tidak panik namun tetap waspada, terutama yang tinggal di lereng curam atau area dengan tanah lunak. Pemerintah Kota Palu diminta segera mengevaluasi kondisi infrastruktur vital seperti jembatan, jalan, dan saluran irigasi yang rawan mengalami pergeseran akibat likuefaksi.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Rahmat Triyono, menambahkan bahwa pihaknya telah mengirimkan tim ke lokasi untuk melakukan survei geologi dan pemasangan alat pemantau tambahan. "Data dari lapangan akan menjadi dasar untuk memperbarui peta kerentanan likuefaksi di Sulawesi Tengah," katanya.
Bencana likuefaksi pada 28 September 2018 lalu menjadi salah satu tragedi terkelam di Indonesia. Gempa M7,4 yang diikuti tsunami dan likuefaksi menewaskan lebih dari 4.300 jiwa. Ribuan rumah di Petobo dan Balaroa lenyap ditelan tanah yang bergerak. Pengalaman itu menjadi alasan utama BMKG mengambil sikap proaktif sejak dini pascagempa kali ini.
Dwikorita mengingatkan bahwa meskipun magnitudo gempa kali ini lebih kecil, karakteristik tanah di Palu tidak berubah. "Risiko tetap ada, dan kami tidak ingin meremehkan. Lebih baik waspada daripada menyesal," ujarnya menegaskan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan bangunan signifikan akibat gempa M6,7. Namun, BMKG memastikan akan terus memperbarui informasi jika terjadi perkembangan terkait potensi likuefaksi di wilayah tersebut.