MALUKU — Faraday Future tidak sepenuhnya meninggalkan kendaraan listrik, tapi masa depan perusahaan itu tampaknya mulai bergeser. Pekan ini, mereka secara resmi mengumumkan jajaran produk robotik yang terdiri dari robot humanoid dan robot quadruped. Varian quadruped bahkan bisa dilengkapi kepala anjing opsional, mirip konsep robot peliharaan.
Robot humanoid Faraday Future dirancang untuk tugas-tugas yang membutuhkan interaksi mirip manusia. Sementara varian quadruped dengan empat kaki diklaim lebih stabil untuk navigasi di medan kasar. Opsi kepala anjing pada varian quadruped menjadi nilai tambah bagi pengguna yang menginginkan robot dengan estetika hewan peliharaan.
Belum ada rincian teknis soal kapasitas baterai, daya angkat, atau kecepatan gerak kedua robot tersebut. Faraday Future juga belum menyebutkan harga jual atau jadwal produksi massal.
Keputusan Faraday Future masuk ke bisnis robotik tidak lepas dari performa lini utama mereka di segmen electric vehicle (EV). Sejak memulai produksi, perusahaan dilaporkan baru berhasil menjual lebih dari 15 unit mobil listrik FF 91. Angka itu sangat kecil untuk ukuran pabrikan mobil global, apalagi jika dibandingkan dengan target ambisius yang pernah mereka canangkan.
Dengan catatan penjualan yang minim, diversifikasi ke robotik bisa menjadi strategi untuk mencari sumber pendapatan baru. Namun, belum ada kepastian apakah robot-robot ini akan diproduksi massal atau sekadar konsep untuk menarik investor.
Faraday Future belum menyebut secara spesifik segmen pasar yang dibidik untuk robot humanoid dan quadruped-nya. Di industri robotik, mereka akan bersaing dengan pemain mapan seperti Boston Dynamics yang sudah punya Spot (robot quadruped) dan Atlas (robot humanoid).
Untuk pasar Indonesia, robot humanoid dan quadruped masih tergolong barang niche dengan harga jual sangat tinggi. Regulasi impor alat elektronik canggih juga bisa menjadi hambatan jika Faraday Future berniat masuk ke pasar lokal.
Meski fokus bergeser, Faraday Future menegaskan belum menutup proyek mobil listriknya. FF 91 masih diproduksi secara terbatas, meski volume pengiriman sangat kecil. Perusahaan tampaknya ingin menjaga opsi tetap terbuka di segmen EV sambil menjajaki peluang baru di robotik.
Belum ada informasi soal rencana Faraday Future untuk pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, baik untuk mobil listrik maupun robot barunya.