JAKARTA — IHSG bergerak di zona merah pada awal perdagangan Selasa. Investor masih mencermati sinyal dari dalam dan luar negeri. Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 ikut terkoreksi 4,02 poin atau 0,70 persen ke posisi 568,99.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya, Selasa (30/6), menyebutkan jika rebound terjadi, IHSG berpotensi menguji resistance di kisaran 5.996 hingga 6.013. Jika berhasil menembus area tersebut, penguatan bisa berlanjut menuju 6.097 hingga 6.221-6.287.
Namun, ia mengingatkan risiko koreksi lebih dalam masih terbuka apabila support 5.722 gagal dipertahankan. Dalam skenario tersebut, IHSG berpotensi turun menuju 5.677 hingga 5.594.
Dari mancanegara, sentimen pasar cenderung positif setelah sektor teknologi mengalami koreksi tajam pekan lalu. Namun, pelaku pasar masih berhati-hati menjelang rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat pada Kamis (1/7). Data tersebut akan menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed.
Data Deutsche Bank menunjukkan ETF dan reksa dana berbasis teknologi mengalami outflow sebesar 9,3 miliar dolar AS pada pekan lalu. Hal ini mencerminkan sebagian investor masih melakukan diversifikasi ke sektor lain.
Ketegangan geopolitik kembali mencuat setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan selama akhir pekan. Iran dilaporkan menyerang sejumlah kapal di Selat Hormuz, sementara AS membalas dengan menyerang fasilitas militer Iran. Kekhawatiran pasar sedikit mereda setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran mengajukan pertemuan diplomatik di Doha, Qatar, meskipun klaim tersebut dibantah pihak Iran.
“Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik kembali meningkat, namun belum memicu kepanikan di pasar keuangan global,” ujar Liza.
Dari dalam negeri, pemerintah terus memperkuat fundamental ekonomi. Kementerian Keuangan memutuskan mengembalikan dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp110 triliun yang sebelumnya sempat ditarik dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Total penempatan dana pemerintah di perbankan tetap Rp281 triliun dan diperpanjang hingga akhir Desember 2026.
Pemerintah juga menyiapkan tambahan Rp100 triliun sebagai dana siaga (standby facility) untuk menjaga likuiditas perbankan di tengah tingginya permintaan kredit. Hingga Mei 2026, kredit masih tumbuh 11,5 persen secara tahunan.
Di sisi moneter, kebijakan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 100 bps sepanjang 2026 mulai menunjukkan hasil. Hingga 26 Juni 2026, aliran dana asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah mencapai sekitar 9 miliar dolar AS.
Menurut Liza, kombinasi masuknya arus modal asing, penguatan likuiditas perbankan, serta dukungan pemerintah terhadap investasi dan ekspor berpotensi menjadi sentimen positif bagi stabilitas rupiah, pasar obligasi, dan sektor perbankan.
Pada perdagangan Senin (29/6), bursa Eropa bergerak variatif. Euro Stoxx 50 menguat tipis 0,04 persen, sementara FTSE 100 Inggris melemah 0,21 persen. DAX Jerman turun 0,20 persen, dan CAC 40 Prancis melemah 0,20 persen.
Sebaliknya, bursa AS Wall Street kompak menguat. Dow Jones Industrial Average naik 0,59 persen, S&P 500 menguat 1,17 persen, dan Nasdaq Composite melonjak 2,07 persen.
Di Asia, indeks Nikkei menguat 0,54 persen ke 69.885,00. Sementara itu, Shanghai melemah 0,33 persen ke 4.060,48, Hang Seng turun 1,39 persen ke 22.757,00, dan Strait Times melemah 0,40 persen ke 5.187,90.