Ritual Adat Baku Bayar Gong Akhiri Konflik Tiga Bulan Warga Salarem dan Kalar Kalar di Kepulauan Aru

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:21:01 WIB
Tokoh adat dan warga Salarem serta Kalar Kalar menyerahkan gong adat sebagai simbol perdamaian.

DOBO — Ketegangan antara dua desa yang berasal dari rumpun adat Urlima itu resmi berakhir setelah masing-masing pihak menyerahkan gong adat sebagai simbol pemulihan hubungan persaudaraan. Puluhan tokoh adat, unsur Forkopimda, dan warga menyaksikan momen haru yang diwarnai dengan pengenaan ikat kepala serta kibaran bendera putih sebagai tanda damai.

Mengapa Gong Adat Jadi Simbol Perdamaian?

Tradisi Baku Bayar Gong bukan sekadar seremonial. Dalam budaya Kepulauan Aru, penyerahan gong oleh kedua pihak merupakan bentuk pertanggungjawaban bersama atas konflik yang mencoreng hubungan kekeluargaan. Gong adat dipercaya sebagai benda sakral yang mengikat kembali ikatan persaudaraan antarkampung yang sempat retak.

“Prosesi ini adalah pengakuan bahwa kami masih satu darah, satu rumpun. Gong yang dibayar bukan soal harga, tapi soal harga diri dan persaudaraan yang harus dipulihkan,” ujar salah satu tetua adat yang hadir dalam prosesi.

Peran Pemerintah dan Kepolisian dalam Mediasi

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru bersama Polres Kepulauan Aru menjadi fasilitator utama dalam rekonsiliasi ini. Proses mediasi berlangsung intensif selama beberapa pekan sebelum akhirnya mencapai titik temu pada ritual adat tersebut.

Unsur Forkopimda yang hadir langsung menyaksikan penyerahan gong adat sebagai bukti bahwa negara hadir dalam menjaga kerukunan warga. Kapolres Kepulauan Aru menyebut bahwa pendekatan kultural seperti ini lebih efektif meredam konflik berkepanjangan di wilayah adat.

Dampak Konflik dan Harapan ke Depan

Selama tiga bulan ketegangan, aktivitas warga di kedua desa sempat terganggu. Akses jalan antar kampung dibatasi dan interaksi sosial terhenti. Kini, dengan selesainya ritual Baku Bayar Gong, warga Salarem dan Kalar Kalar kembali bisa beraktivitas normal.

Tokoh masyarakat dari kedua desa berharap perdamaian ini menjadi contoh bagi kampung-kampung lain di Kepulauan Aru yang masih memiliki potensi konflik serupa. “Kami tidak ingin ada lagi permusuhan. Kami saudara,” kata seorang warga Kalar Kalar usai prosesi.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: porostimur.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top