Ambon, 2026. Di tengah gempuran informasi digital, orang tua di Maluku mulai melirik kembali pendidikan berbasis pondok. Bukan sekadar mengejar hafalan Al-Qur'an, mereka mencari lingkungan yang membentuk karakter. Permintaan ini mendorong sejumlah pesantren di Maluku melakukan transformasi besar-besaran, dari kurikulum hingga infrastruktur.
Data Kementerian Agama Maluku mencatat ada lebih dari 120 pondok pesantren tersebar di provinsi ini. Dari jumlah itu, hanya sebagian yang memenuhi standar pendidikan formal dan non-formal secara simultan. Berikut tujuh di antaranya yang masuk radar utama pencarian warga lokal dan perantau.
Berlokasi di Jalan Raya Laha, Kecamatan Teluk Ambon, pesantren ini berdiri sejak 1985. Kini menampung 450 santri dari berbagai daerah di Maluku dan Papua. Keunggulan utamanya adalah program tahfiz 30 juz yang dituntaskan dalam 2-3 tahun.
Biaya pendaftaran tahun ajaran 2025/2026 sekitar Rp 3,5 juta, sudah termasuk seragam dan kitab. Sementara SPP bulanan Rp 400 ribu. Asrama putra dan putri dipisah ketat, masing-masing dengan pengasuh tetap yang tinggal di kompleks.
Pesantren ini berada di Kelurahan Kalumpang, Kota Ternate Utara. Darul Ulum punya program unggulan kombinasi salaf dan modern. Santri belajar kitab kuning di pagi hari, lalu mengikuti pelajaran formal SMP/SMA di sore hari.
Fasilitas yang tersedia: laboratorium komputer, perpustakaan dengan 3.000 judul kitab, dan aula serbaguna. Biaya masuk Rp 2,8 juta, SPP Rp 350 ribu per bulan. Waktu tempuh dari pusat kota Ternate sekitar 20 menit naik motor.
Satu-satunya pesantren di Maluku Tengah yang memiliki lahan pertanian produktif seluas 5 hektar. Santri diajak mengelola kebun pala dan cengkih sebagai bagian dari pendidikan kewirausahaan. Konsep ini jarang ditemui di pesantren lain di Maluku.
Pendaftaran dibuka dua gelombang setiap tahun. Gelombang pertama Januari-Februari, gelombang kedua Juni-Juli. Biaya total di awal Rp 4,2 juta, termasuk uang gedung dan deposit asrama.
Berada di Jalan Sultan Ternate, Kecamatan Pulau Dullah Selatan, Al-Fatah menjadi rujukan utama bagi warga Kepulauan Kei. Pesantren ini fokus pada bimbingan bahasa Arab dan Inggris aktif. Setiap santri wajib mengikuti muhadatsah (percakapan) setiap pagi sebelum masuk kelas.
Jumlah santri saat ini 320 orang. Kapasitas asrama terbatas, sehingga calon santri disarankan mendaftar 3 bulan sebelum tahun ajaran baru. Biaya per bulan Rp 500 ribu, sudah termasuk makan tiga kali sehari.
Terletak di kawasan Batu Merah, Kecamatan Sirimau, pesantren ini terkenal dengan program tahsin dan tahfiz intensif. Setiap santri mendapat target hafalan minimal setengah juz per bulan. Kelas dibagi berdasarkan kemampuan, bukan usia.
Biaya pendaftaran Rp 2,5 juta. SPP Rp 300 ribu per bulan. Kelebihan lain: akses transportasi mudah karena berada di jalur utama angkutan kota jurusan Mardika-Poka.
Pesantren kecil di Pulau Banda yang hanya menampung 80 santri. Al-Muhajirin unggul dalam hafalan Al-Qur'an dan kajian fikih syafi'i. Suasana asrama sederhana, tetapi lingkungannya sangat kondusif untuk belajar karena jauh dari keramaian kota.
Biaya paling terjangkau di antara pesantren lain di Maluku: pendaftaran Rp 1,8 juta, SPP Rp 200 ribu per bulan. Keterbatasan kapasitas membuat pesantren ini sering penuh setahun sebelumnya.
Berdiri di Desa Porto, Kecamatan Saparua Timur, pesantren ini mengusung kurikulum kombinasi Kemenag dan Dinas Pendidikan. Santri bisa mengikuti ujian kesetaraan Paket B dan C di pesantren ini. Program unggulan: kaligrafi dan seni hadrah.
Biaya masuk Rp 3 juta, SPP Rp 350 ribu per bulan. Asrama pria dan wanita terpisah dengan jarak 200 meter. Tersedia juga asrama guru yang tinggal 24 jam di lokasi.
Berapa kisaran biaya masuk pesantren di Maluku?
Biaya pendaftaran di pesantren Maluku bervariasi antara Rp 1,8 juta hingga Rp 4,2 juta. SPP bulanan mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung fasilitas dan lokasi.
Apakah ada pesantren di Maluku yang menerima santri dari luar daerah?
Ya. Sebagian besar pesantren di atas menerima santri dari luar Maluku, termasuk Papua dan Sulawesi. Beberapa pesantren menyediakan asrama khusus bagi santri rantau.
Kapan waktu pendaftaran pesantren di Maluku?
Pendaftaran biasanya dibuka dua gelombang: Januari-Februari dan Juni-Juli. Beberapa pesantren seperti Al-Fatah Tual menyarankan pendaftaran 3 bulan sebelum tahun ajaran baru karena keterbatasan kapasitas.
Apakah pesantren di Maluku mengeluarkan ijazah formal?
Pesantren yang terdaftar di Kemenag seperti Al-Muttaqien, Darul Ulum, dan Darul Falah mengeluarkan ijazah formal yang diakui untuk jenjang SMP dan SMA sederajat.
Bagaimana cara memilih pesantren yang tepat untuk anak?
Pertimbangkan lokasi, biaya, program unggulan, dan lingkungan asrama. Kunjungi langsung pesantren sebelum mendaftar. Bicaralah dengan pengurus dan santri aktif untuk mendapat gambaran nyata.
Maluku tidak kekurangan pesantren berkualitas. Tujuh daftar di atas hanya sebagian kecil dari yang tersedia. Kuncinya, cocokkan kebutuhan anak dengan keunggulan masing-masing pondok. Jangan ragu datang langsung, lihat fasilitas, dan tanyakan sistem pembinaan santri. Pendidikan agama yang solid di masa remaja adalah investasi jangka panjang yang tidak ternilai.