MALUKU — Fenomena bloatware atau aplikasi yang terus membengkak ukuran dan konsumsi sumber daya bukan hal baru di ekosistem Windows. Namun, sebuah eksperimen dari veteran Microsoft Dave Plummer kembali menegaskan bahwa banyak aplikasi saat ini sebenarnya bisa jauh lebih ringan jika developernya mau sedikit lebih disiplin dalam menulis kode.
Plummer, yang juga dikenal sebagai pencipta Windows Task Manager, merilis Tiny Retro Pad — aplikasi notepad dengan fungsi dasar mengetik yang hanya memakan ruang 2.686 byte (sekitar 2,6 KB). Sebagai perbandingan, aplikasi Notepad bawaan Windows 11 versi terbaru sudah berukuran puluhan megabyte dan dibekali fitur Copilot yang kontroversial.
"Program kecil ini tidak membawa peradabannya sendiri. Ia datang dengan bekal makan siang dan peta kota," ujar Plummer dalam video di kanal YouTube-nya. Maksudnya, Tiny Retro Pad memanfaatkan library dan komponen yang sudah tersedia di dalam Windows, bukan mengemas ulang semuanya dari nol.
Menurut Plummer, masalah utama bukan pada satu aplikasi tertentu, melainkan akumulasi dari setiap program yang tidak dioptimalkan. "Sepertinya software modern berjalan ke arah sebaliknya. Anda hanya ingin kotak teks, tapi malah mengimpor runtime, layout engine, renderer, dependency tree, telemetry client, auto updater, dan sebagian kecil dari Chromium," kritiknya.
Dampaknya nyata: beban kerja produktivitas yang sama di tahun 2026 membutuhkan RAM jauh lebih besar dibanding tahun 2015. Windows 10 dulu bisa berjalan dengan RAM 1 GB (32-bit) atau 2 GB (64-bit). Kini, Windows 11 butuh minimal 4 GB hanya untuk booting, dan pengguna disarankan memiliki 8 GB atau lebih. Bahkan, keputusan Microsoft dan vendor PC untuk menjual laptop baru dengan RAM 8 GB sempat menuai kontroversi tahun lalu.
Plummer menegaskan bahwa membuat aplikasi di bawah 4.096 byte bukan tentang ukuran final, melainkan tentang disiplin bekerja dalam keterbatasan. Di era Windows awal, developer dipaksa efisien karena adanya batasan hardware yang ketat.
"Tidak setiap aplikasi perlu menggabungkan semesta. Tidak setiap utilitas perlu dikirimkan dengan mesin browser," tambahnya. Pesan ini relevan tidak hanya bagi developer, tapi juga bagi pengguna yang sering bertanya-tanya mengapa laptop baru terasa lambat meski speknya tinggi.
Meski Tiny Retro Pad bukanlah aplikasi yang akan dipakai sehari-hari oleh kebanyakan orang, proyek ini menjadi pengingat bahwa jika lebih banyak developer fokus pada kode yang efisien, Windows 11 bisa terasa jauh lebih responsif — bahkan di perangkat dengan spesifikasi menengah sekalipun.