AMBON — Publik selama ini akrab dengan istilah green flag untuk pasangan ideal dan red flag untuk hubungan toksik. Kini muncul istilah baru yang lebih samar, namun tak kalah meresahkan: blue flag.
Berbeda dengan red flag yang jelas berbahaya, ciri suami blue flag sulit dikenali. Dari luar, pernikahan tampak harmonis. Suami bekerja, tidak selingkuh, dan membantu urusan rumah. Namun di dalam hati, istri terus bertanya-tanya mengapa ia merasa benar-benar kesepian.
Bayangkan seorang laki-laki yang bertanggung jawab, setia, dan selalu ada untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, saat diajak bicara soal perasaan mendalam, keterbukaan, atau keintiman emosional yang tulus, ia langsung menutup diri.
Itulah blue flag husband. Ia bukan suami yang jahat atau kasar. Ia laki-laki baik yang perasaan dan emosinya sangat tertutup. Kehadiran fisiknya selalu ada, tapi kehadiran batinnya terasa hampa.
Berikut enam tanda yang bisa dikenali agar istri tidak terus-menerus menyalahkan diri sendiri saat merasa ada yang ganjil dalam rumah tangganya:
Yang paling berbahaya dari blue flag adalah efeknya pada psikologis istri. Karena suami tidak melakukan kesalahan besar seperti selingkuh atau KDRT, istri justru mudah menyalahkan diri sendiri. "Mungkin aku yang terlalu sensitif," atau "Mungkin aku yang terlalu banyak menuntut," begitu pikirnya.
Padahal, kebutuhan akan keintiman emosional adalah hal yang wajar dalam pernikahan. Tanpa itu, hubungan hanya menjadi kerja sama logistik antara dua orang yang tinggal serumah.
Para psikolog pernikahan menyarankan agar istri tidak langsung menyudutkan pasangan. Sebaliknya, coba bangun komunikasi secara perlahan. Mulailah dari obrolan ringan yang tidak mengancam, lalu secara bertahap ajak suami berbagi perasaan tanpa tekanan.
Jika pola ini terus berlanjut dan membuat istri semakin tertekan, konseling pernikahan bisa menjadi langkah berikutnya. Yang terpenting, istri perlu memahami bahwa perasaan kesepian di tengah pernikahan bukanlah sesuatu yang harus ditanggung sendirian.