MALUKU — Bahlil menyebut langsung Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri dan seluruh jajaran direksi dalam sambutannya. Ia tak ragu mengakui ketergantungan program ini pada kemampuan BUMN energi itu.
"Jujur pak, tanpa Pertamina, B50 ini gak berjalan," kata Bahlil di hadapan Presiden Prabowo Subianto dan tamu undangan lainnya.
Menurut Bahlil, porsi Pertamina dalam rantai pasok B50 sangat dominan. Perusahaan mengolah 80 persen FAME hingga tingkat kehalusan tertentu sebelum dicampurkan ke solar.
Meski peran Pertamina krusial, Bahlil mengakui ada tantangan di sisi harga. Proses pengolahan yang rumit membuat harga FAME kerap naik turun.
"Saking olahannya harganya naik turun pak," lanjut Bahlil.
Ia berharap setelah peluncuran resmi, harga B50 bisa lebih stabil. "Mudah-mudahan dengan peluncuran ini semakin paten harganya," ujarnya.
Peluncuran B50 di rest area tol Jakarta-Cikampek bukan sekadar seremoni. Lokasi ini dipilih karena menjadi titik strategis distribusi BBM ke berbagai wilayah. Dengan harga yang diharapkan lebih stabil, konsumen — terutama sektor transportasi dan industri — bisa mendapatkan pasokan bahan bakar dengan biaya lebih terprediksi.
Program ini juga menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah mempercepat transisi energi. B50 mengandung 50 persen campuran biodiesel berbasis kelapa sawit, lebih tinggi dari B35 yang sebelumnya berlaku.
Ke depan, harga paten B50 akan menjadi kunci utama agar program ini bisa berkelanjutan. Tanpa stabilitas harga, beban subsidi energi bisa membengkak — dan tanpa Pertamina, seluruh mata rantai produksi B50 terancam tersendat.