MALUKU — Reflection AI, perusahaan rintisan yang baru didirikan pada 2024 oleh dua mantan peneliti Google DeepMind, terus mengamankan pasokan daya komputasi untuk mengembangkan model AI terbuka (open-source). Kali ini, mereka menggandeng Nebius, perusahaan infrastruktur AI yang merupakan pecahan dari raksasa teknologi Rusia Yandex. Nilai kontrak yang dilaporkan oleh TechCrunch mencapai USD 1 miliar.
Kesepakatan dengan Nebius terjadi hanya beberapa pekan setelah Reflection menandatangani kontrak serupa untuk mengakses sumber daya komputasi milik SpaceX. Pola ini menunjukkan betapa krusialnya akses ke chip dan server bagi startup AI untuk bisa melatih dan menjalankan model-model mereka yang membutuhkan daya komputasi masif.
Reflection bukan satu-satunya pemain di segmen model AI dengan bobot terbuka (open-weight). Mereka bersaing dengan sejumlah pengembang dari China yang juga merilis model-model kompetitif. Minat terhadap AI open-source meningkat drastis belakangan ini, terutama setelah muncul kekhawatiran soal keamanan data dan intervensi pemerintah.
Bulan lalu, pemerintahan Trump dilaporkan menekan Anthropic dan OpenAI untuk membatasi akses ke model-model terbaru mereka yang bersifat tertutup (closed-source). Langkah ini memicu kekhawatiran bahwa akses ke AI canggih bisa dicabut secara sepihak kapan saja. Situasi itu, ditambah dengan kehadiran model open-source dari China yang makin mumpuni, membuat banyak pihak—termasuk pengembang dan perusahaan—beralih ke alternatif yang lebih transparan.
Bagi Nebius, kontrak dengan Reflection menambah panjang daftar klien besar mereka. Sebelumnya, Nebius meneken kontrak infrastruktur senilai hingga USD 27 miliar dengan Meta untuk jangka waktu lima tahun. Mereka juga memiliki perjanjian multi-tahun dengan Microsoft yang nilainya mencapai USD 19,4 miliar.
Reflection sendiri saat ini memiliki valuasi USD 8 miliar dan telah mengantongi pendanaan hampir USD 2,6 miliar dari investor seperti Nvidia, Sequoia Capital, dan Lightspeed Venture Partners. Nvidia juga merupakan investor di Nebius, yang menunjukkan bagaimana ekosistem AI saling terhubung erat.
Kesepakatan senilai miliaran dolar ini menegaskan bahwa perang komputasi AI sudah memasuki babak yang sangat intens. Startup sekelas Reflection—yang baru berusia setahun—harus merogoh kocek sangat dalam hanya untuk bisa mengakses infrastruktur. Bagi pengembang atau perusahaan di Indonesia yang tertarik menggunakan model AI open-source, situasi ini berarti akan semakin banyak pilihan model yang andal dan transparan di masa depan, meskipun pengembangan di baliknya membutuhkan investasi raksasa.
Hingga berita ini diturunkan, TechCrunch masih menunggu tanggapan lebih lanjut dari Reflection dan Nebius terkait detail teknis kerja sama tersebut.