5 Pesona Pulau Seram di Maluku yang Jarang Terjamah Wisatawan, dari Birdwatching hingga Desa Terapung

Penulis: Oman Sudirman  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 13:30:01 WIB
Taman Nasional Manusela di Pulau Seram menjadi habitat bagi burung endemik Wallacea, seperti salmon-crested cockatoo.

MALUKU — Pulau Seram, yang kerap luput dari radar wisatawan mancanegara, menyimpan kekayaan alam dan budaya yang tak kalah dengan destinasi populer di Indonesia timur. Sebagai pulau terbesar di Provinsi Maluku, Seram menggabungkan hutan hujan tropis, pegunungan, sungai, dan pesisir dalam satu bentang alam yang masih terjaga keasliannya.

Mengintip Burung Endemik di Wallacea

Salah satu daya tarik utama adalah Taman Nasional Manusela, kawasan konservasi seluas sekitar 189.000 hektare yang membentang dari pesisir hingga pegunungan. Menurut Balai Taman Nasional Manusela, kawasan ini menjadi rumah bagi beragam flora dan fauna endemik di kawasan Wallacea.

Bagi pencinta satwa liar, birdwatching menjadi pengalaman yang sulit ditolak. Data BirdLife International mencatat Pulau Seram memiliki tingkat endemisitas burung yang sangat tinggi. Spesies langka seperti salmon-crested cockatoo (Cacatua moluccensis), purple-naped lory, hingga seram masked owl hanya bisa ditemukan di sini.

Desa Sawai: Permata di Atas Laut

Tidak jauh dari kawasan taman nasional, Desa Sawai menawarkan suasana berbeda. Rumah-rumah kayu berdiri di atas laut, berpadu dengan deretan perahu nelayan tradisional. Dari desa ini, wisatawan bisa menikmati matahari terbit, snorkeling di perairan jernih, atau sekadar menyusuri laut menggunakan perahu tradisional.

Petualangan bisa dilanjutkan dengan menyusuri Sungai Salawai menggunakan longboat. Sepanjang perjalanan, hutan hujan primer yang masih asli menyuguhkan pemandangan burung liar, kupu-kupu tropis, dan vegetasi khas Maluku.

Mendaki Gunung Binaiya dan Berenang di Pantai Ora

Bagi pencinta kegiatan luar ruang, mendaki Gunung Binaiya menjadi tantangan tersendiri. Dengan ketinggian sekitar 3.027 meter di atas permukaan laut, puncak tertinggi di Provinsi Maluku ini menawarkan jalur yang melintasi hutan hujan tropis, hutan lumut, hingga padang rumput pegunungan. Balai Taman Nasional Manusela menyebut jalur ini sebagai salah satu trek pendakian paling menantang di Indonesia timur.

Di sisi lain pulau, Pantai Ora kerap disebut sebagai salah satu pantai terindah di Indonesia. Air laut sebening kristal berpadu dengan latar pegunungan hijau, menciptakan panorama yang berbeda dari destinasi pantai pada umumnya. Terumbu karang yang masih sehat menjadikan kawasan ini cocok untuk snorkeling dan menyelam.

Menyelami Tradisi Suku Nuaulu

Selain kekayaan alam, Pulau Seram menawarkan pengalaman budaya melalui masyarakat adat Suku Nuaulu. Antropolog Valerio Valeri dalam bukunya The Forest of Taboos mencatat bahwa masyarakat Nuaulu masih mempertahankan berbagai tradisi, mulai dari rumah adat hingga ritual budaya yang mencerminkan hubungan erat antara manusia dan alam.

Keistimewaan Pulau Seram terletak pada kemampuannya menghadirkan berbagai pengalaman dalam satu perjalanan. Wisatawan dapat menikmati keindahan bawah laut pada pagi hari, menjelajahi hutan hujan tropis pada siang hari, lalu menyaksikan matahari terbenam dari desa pesisir pada sore hari.

Suasana yang masih tenang dan belum dipadati wisatawan menjadi nilai tambah tersendiri. Dengan kekayaan hayati yang diakui dunia serta tradisi masyarakat yang tetap lestari, Pulau Seram layak dipertimbangkan bagi siapa saja yang ingin merasakan sisi lain pesona Indonesia.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: validnews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top