Rupiah Menguat 21 Poin ke Rp18.070 per Dolar AS, Analis Sebut Inflasi AS Landai Jadi Pendorong Utama

Penulis: Oman Sudirman  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 15:25:01 WIB
Rupiah menguat 21 poin ke level Rp18.070 per dolar AS pada perdagangan Rabu pagi.

JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu pagi bergerak menguat. Berdasarkan data pasar, rupiah naik 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp18.070 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.091 per dolar AS.

Inflasi AS Melambat, Harga Energi Anjlok

Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyebut penguatan rupiah kali ini tidak lepas dari faktor global, terutama perlambatan inflasi konsumen tahunan AS. Inflasi AS tercatat melambat menjadi 3,5 persen pada Juni 2026, turun dari 4,2 persen pada bulan sebelumnya.

"Landainya inflasi AS didorong oleh penurunan harga minyak bulan Juni saat dijalankannya gencatan senjata AS dan Iran," ungkap Rully kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Indeks Harga Konsumen (IHK) AS tercatat turun 0,4 persen pada Juni dari bulan sebelumnya, setelah sempat naik 0,5 persen pada Mei. Sementara inflasi inti tak berubah secara bulanan dan melambat jadi 2,6 persen per tahun dari 2,9 persen pada Mei.

Imbal Hasil Obligasi AS Turun, Ekspektasi Suku Bunga The Fed Mereda

Selain inflasi, penurunan yield obligasi pemerintah AS juga turut mendorong penguatan rupiah. Rully menjelaskan, imbal hasil obligasi AS menurun karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dalam waktu dekat mulai memudar. Kondisi ini membuat aset berbasis rupiah kembali menarik bagi investor asing.

Pelaku Pasar Tunggu Hasil Rapat BI

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Rully memperkirakan BI akan kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75 persen.

"Dalam rapat RDG nanti diperkirakan BI akan tetap menahan suku bunga acuan di 5,75 persen," kata dia.

Keputusan BI ini dinilai krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pasar pun akan mencermati pernyataan Gubernur BI pasca-rapat untuk mencari petunjuk arah kebijakan moneter ke depan.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top