JAKARTA — Peluang konsolidasi IHSG terjadi di tengah kombinasi sentimen global dan domestik. Dari Amerika Serikat, inflasi tercatat sebesar 3,5 persen year on year (yoy) pada Juni 2026, turun dari 4,2 persen pada bulan sebelumnya. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,6 persen dari 2,9 persen.
“Data inflasi yang melambat menurunkan ekspektasi akan potensi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir bulan ini,” ujar Ratna dalam kajiannya, Rabu. Ketua The Fed Kevin Warsh dalam kesaksian di hadapan Kongres menyebut peningkatan inflasi dalam lima tahun terakhir akan menjadi masa lalu.
Dari kawasan Asia, ekspor China meningkat 27 persen (yoy) pada Juni 2026, naik dari 19,4 persen pada Mei 2026. Impor juga tumbuh 36 persen, lebih tinggi dari 27,4 persen pada periode sebelumnya. Surplus neraca perdagangan China bertambah menjadi 125,62 miliar dolar AS.
Investor kini menantikan data pertumbuhan PDB China yang diperkirakan melambat menjadi 4,5 persen (yoy) pada kuartal II-2026, dari 5 persen pada kuartal I-2026.
Dari dalam negeri, BEI menambahkan kriteria Price-Impact Ratio dalam metodologi penyaringan saham. Rasio ini membandingkan perubahan harga saham dengan tingkat velocity perdagangan, yaitu rata-rata volume transaksi dibanding jumlah saham beredar di publik.
Saham dengan volume transaksi rendah namun mengalami kenaikan harga besar akan menghasilkan Price-Impact Ratio tinggi. BEI kemudian memasukkan 37 saham baru ke daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC), sehingga total menjadi 51 saham.
Pada perdagangan Selasa (14/7/2026), bursa Eropa dan Wall Street kompak menguat. Indeks S&P 500 naik 0,38 persen, Nasdaq Composite menguat 1,10 persen, sementara Dow Jones Industrial Average melemah tipis 0,02 persen. Bursa Asia pagi ini bervariasi: Nikkei menguat 1,04 persen, Hang Seng naik 1,34 persen, namun Shanghai melemah 0,19 persen.