Rupiah Melemah 3 Poin ke Rp17.614 per Dolar AS, Dipicu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Penulis: Oman Sudirman  •  Senin, 14 September 2026 | 11:00:31 WIB
Nilai tukar rupiah melemah 3 poin menjadi Rp17.614 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp17.614 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Senin, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.611. Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyebut pelemahan ini dipengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve serta lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya risiko geopolitik.

JAKARTA — Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan masih berada di zona merah. Rully Nova memproyeksikan nilai tukar bergerak di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.680.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah di kisaran Rp17.600 - Rp17.680 dipengaruhi oleh global melemahnya mayoritas mata uang kawasan akibat kenaikan harga minyak seiring meningkatnya risiko geopolitik dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed Kamis (17/9) minggu ini,” ungkap Rully kepada ANTARA di Jakarta, Senin.

The Fed Diprediksi Naikkan Suku Bunga 25 Basis Poin

Suku bunga The Fed diperkirakan naik 25 basis points menjadi 4 persen. Ekspektasi itu muncul seiring tren kenaikan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mendekati 5 persen, tepatnya di level 4,96 persen.

Indeks dolar juga sudah menyentuh angka 99. Kondisi ini memperkuat posisi mata uang AS terhadap mayoritas mata uang kawasan, termasuk rupiah.

BI Berpotensi Ambil Langkah Hawkish Pekan Depan

Rully menilai ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi membuat Bank Indonesia mengambil langkah hawkish pada pekan depan dalam Rapat Dewan Gubernur.

Selain itu, ruang fiskal pemerintah semakin menyempit untuk mentransmisi selisih harga minyak dengan asumsi APBN di 70 dolar AS per barel.

Harga Minyak WTI Tembus 100 Dolar AS per Barel

Mengutip Xinhua, harga kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman bulan Oktober menembus angka 100 dolar AS per barel pada Kamis (10/9).

Harga WTI sempat menyentuh level 100,88 dolar AS per barel, naik 4,83 dolar AS atau 5,03 persen dari Rabu (9/9). Angka ini menandai level tertinggi untuk kontrak berjangka minyak mentah WTI sejak 20 Mei.

Lonjakan harga minyak global menjadi salah satu faktor yang menekan mata uang negara importir, termasuk Indonesia. Pemerintah menghadapi tantangan ganda: menjaga stabilitas rupiah sekaligus mengelola ruang fiskal yang semakin terbatas.

Reporter: Oman Sudirman
Sumber: ambon.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top