LANGGUR — Kepala Ohoi definitif di sejumlah desa di Kecamatan Manyeuw, Kabupaten Maluku Tenggara, akhirnya dilantik setelah proses penetapan yang tertunda bertahun-tahun akibat konflik internal keluarga. Camat Manyeuw Ambrosius M.F Letsoin turun langsung ke masyarakat untuk mendengarkan akar persoalan, bukan menunggu laporan masuk ke kantor kecamatan.
Metode yang dipakai bukan surat edaran atau instruksi formal. Ambrosius memilih diskusi kelompok intensif dan memposisikan diri sebagai penengah netral di tengah keluarga-keluarga yang berselisih.
Kebuntuan di beberapa Ohoi berakar pada perselisihan antar-keluarga soal siapa yang berhak memimpin. Perbedaan ini mengeras selama bertahun-tahun hingga proses penetapan kepala Ohoi tidak pernah tuntas.
Melalui musyawarah adat yang difasilitasi kecamatan, kesepakatan damai akhirnya tercapai. Pelantikan kepala Ohoi definitif pun berjalan di desa-desa yang sebelumnya hanya dijaga pejabat sementara.
"Saya selalu mengedepankan pendekatan dengan hati dan pikiran yang dingin. Jangan sampai camat justru menjadi bagian dari persoalan baru. Puji Tuhan, melalui musyawarah, satu per satu desa yang sebelumnya dipimpin pejabat sementara kini telah memiliki kepala Ohoi definitif," ujar Ambrosius.
Kepemimpinan definitif dinilai membuka jalan bagi program pembangunan yang lebih terarah. Selama dipimpin pejabat sementara, banyak keputusan strategis di tingkat Ohoi tertahan karena tidak memiliki legitimasi penuh dari warga.
Dengan kepala Ohoi yang sah, anggaran desa dan program infrastruktur bisa dieksekusi tanpa hambatan administratif. Kecamatan Manyeuw kini mengalihkan fokus ke percepatan pembangunan dan pelayanan publik.
Stabilitas tata kelola di tingkat Ohoi menjadi prioritas Kecamatan Manyeuw. Persoalan internal yang selesai satu per satu membuat perangkat kecamatan bisa bekerja lebih efisien.
Sejumlah Ohoi di Kecamatan Manyeuw belum disebut tuntas seluruhnya. Pemerintah kecamatan masih mendampingi desa-desa yang proses musyawarahnya belum mencapai kesepakatan akhir.
Pendekatan yang sama akan dipakai: turun langsung, mendengar, dan memfasilitasi musyawarah tanpa memihak. Warga di desa-desa yang sudah memiliki kepala definitif kini menunggu realisasi janji pembangunan yang selama ini tertunda.