MALUKU — BYD menarik kembali 32.009 unit pikap Shark 6 yang sudah terjual di Australia karena ban serep berpotensi terlepas saat kendaraan melaju. Recall ini mencakup seluruh varian yang dipasarkan di sana, yakni Premium, Performance, dan Dynamic. Perbaikan dilakukan gratis dengan penggantian komponen dudukan ban serep.
Kampanye penarikan kembali ini diumumkan setelah BYD menemukan keausan tidak wajar pada kabel penyangga ban serep. Menurut laporan Carscoops, seluruh unit Shark 6 yang telah dikirim ke konsumen Australia masuk dalam daftar perbaikan, tanpa terkecuali.
Sumber masalahnya ada di sistem penyangga ban serep yang dipasang di bawah bak belakang. Beberapa faktor pemicu yang teridentifikasi antara lain pemasangan ban yang kurang tepat, posisi dudukan yang tidak pas, hingga kekencangan baut yang tidak sesuai standar pabrik.
Gesekan yang terjadi terus-menerus saat mobil berjalan lama-kelamaan bisa membuat kabel penahan putus. Kalau sudah begitu, ban serep berpotensi terlepas ke jalan dan membahayakan pengendara lain di belakang.
Sebagai langkah sementara, BYD mengimbau pemilik melepas ban serep dari dudukannya sebelum perbaikan dilakukan. Imbauan ini berlaku sampai komponen pengganti tersedia di jaringan bengkel resmi.
Perbaikan dilakukan tanpa biaya alias gratis untuk seluruh pemilik unit terdampak. Teknisi akan mengganti komponen dudukan ban serep dengan part yang sudah diperbaiki spesifikasinya.
Pengerjaan teknisnya sendiri diperkirakan hanya memakan waktu sekitar 30 menit per unit. Meski begitu, pemilik kemungkinan perlu meninggalkan kendaraan mereka lebih lama tergantung antrean di bengkel.
BYD saat ini mulai menghubungi pemilik kendaraan melalui email dan aplikasi resmi. Konsumen juga bisa mengecek status recall kendaraan mereka secara mandiri lewat situs resmi informasi recall BYD.
Kasus ini tercatat sebagai salah satu penarikan kembali kendaraan terbesar bagi BYD di Australia. Sebelumnya pada 2022, pabrikan asal China itu sempat menghentikan sementara penjualan model Atto 3 di negara tersebut.
Penghentian penjualan Atto 3 kala itu dipicu masalah ketidaksesuaian aturan standar keselamatan pada jangkar kursi anak (child seat anchor). Dua kasus ini menunjukkan bahwa BYD masih menghadapi tantangan dalam memastikan kepatuhan regulasi di pasar Australia yang ketat.
Bagi konsumen di Indonesia, kasus ini bisa jadi catatan tersendiri. BYD sudah menjual beberapa model di pasar lokal, meski Shark 6 belum masuk ke sini. Pemilik kendaraan BYD di Indonesia disarankan rutin memeriksa pengumuman resmi dari ATPM terkait potensi kampanye serupa.