MALUKU — Suzuki eVitara membuktikan mobil listrik pertama mereka bukan sekadar formalitas — akselerasinya gesit, sasisnya responsif, dan pengendaliannya terasa seperti mobil konvensional yang menyenangkan. Tapi dengan banderol Rp 750 jutaan, eVitara harus berhadapan dengan EV China yang harganya bisa setengahnya. Kami sudah menjajalnya di jalan perkotaan untuk melihat apakah sensasi berkendara bisa menutupi selisih harga itu.
Suzuki akhirnya benar-benar memasarkan mobil listrik perdananya di Indonesia, eVitara. Bukan sekadar coba-coba, mobil ini terasa seperti pernyataan Suzuki soal bagaimana seharusnya sebuah EV dikendarai. Kami berkesempatan mengujinya langsung di rute perkotaan, mencakup jalanan padat, tikungan, dan beberapa polisi tidur untuk merasakan karakter sasisnya.
eVitarab punya dimensi yang tidak jauh berbeda dari Suzuki Fronx. Tapi karakter keduanya bertolak belakang. Fronx disetel untuk konsumsi BBM super irit, konsekuensinya tenaga terasa ditahan. eVitara lepas dari batasan itu berkat torsi instan motor listrik.
Soal tampilan, Suzuki memilih arah yang berbeda dari kebanyakan EV. Tidak ada desain mulus-mulus tanpa grill yang terkesan mengawang. eVitara justru tampil gahar dan sporty, dengan wajah agresif, otot di bumper, hingga lekukan di samping dan belakang.
Kabinnya juga mengikuti filosofi yang sama. Nuansa sporty kental, dan yang menarik, masih banyak tombol fisik untuk mengoperasikan berbagai fitur. Dual screen yang terdiri dari MID dan infotainment jadi pusat perhatian, menegaskan kesan modern tanpa harus menghilangkan fungsi tombol konvensional.
Jok eVitara enak diduduki dengan posisi duduk yang ergonomis meski cenderung commanding. Busa jok, terutama di sandaran punggung, terasa empuk dan menambah kenyamanan perjalanan.
Kombinasi pengaturan ini membuat posisi berkendara mudah disesuaikan dengan kebutuhan pengemudi.
Di sinilah eVitara benar-benar bersinar. Dimensi kompaknya berpadu dengan sasis yang terasa menyatu dengan respons setir. Akselerasinya berisi dan gesit, membuat manuver di perkotaan jadi sangat menyenangkan.
Yang mengejutkan, kami seperti tidak sedang mengendarai mobil listrik. Rasanya lebih mirip mobil konvensional pada umumnya, hanya saja minim suara dan getaran. Body roll saat bermanuver juga minim, dan bagian belakang terasa nurut diajak bermanuver.
Bantingan suspensi depan empuk dan mampu meredam berbagai permukaan jalan dengan baik. Ini yang membuat pengalaman berkendara di kota terasa nyaman tanpa mengorbankan ketajaman pengendalian.
Ada satu area yang perlu diperhatikan. Kaki-kaki belakang belum bisa berpadu harmonis dengan bobot baterai. Saat melaju sedang hingga kecepatan tinggi, mobil tetap stabil dan presisi.
Masalah muncul saat berjalan pelan dan melindas polisi tidur. Rebound dan pantulan dari suspensi belakang masih sangat terasa. Ini kewajaran yang mungkin masih bisa dikompromikan, tapi tetap menjadi pekerjaan rumah bagi Suzuki untuk meracik kaki-kaki belakang agar lebih nyaman.
eVitarab valid sebagai mobil Suzuki terkencang sekaligus termahal di Indonesia. Pertanyaan besarnya, apakah banderol Rp 750 jutaan layak di tengah gempuran EV China yang menawarkan harga jauh lebih murah?
Secara driving impression, eVitara juara. Sensasi berkendaranya membuat kami berharap semua mobil Suzuki bisa seasik ini. Tapi pembeli tetap harus mempertimbangkan faktor harga dan nilai jual kembali, terutama di segmen EV yang masih berkembang di Indonesia.
Suzuki eVitara cocok untuk kamu yang mengutamakan sensasi berkendara dan sudah terbiasa dengan karakter mobil Suzuki. Sebagai crossover urban SUV, eVitara tergolong ideal untuk pemakaian perkotaan sehari-hari.
Tapi kalau budget jadi pertimbangan utama dan kamu tidak terlalu peduli soal driving feel, EV China dengan harga setengahnya mungkin perlu masuk daftar pertimbangan. eVitara membuktikan Suzuki bisa bikin mobil listrik yang menyenangkan, tinggal soal harga yang harus dibicarakan lebih lanjut.