MALUKU — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam menghentikan ekspor diesel ke Uni Eropa selama 90 hari demi meredakan lonjakan harga bahan bakar di dalam negeri. Ancaman itu memicu kekhawatiran mendalam di Brussels karena AS memasok sekitar 33% dari total impor diesel Eropa sepanjang tahun ini. Uni Eropa kini berada dalam posisi rentan setelah sebelumnya diterpa sanksi minyak Rusia dan eskalasi konflik Timur Tengah.
Juru Bicara Komisi Eropa Olof Gill menyatakan gangguan pada rantai pasokan bahan bakar dari AS akan merugikan kedua belah pihak. Menurut Gill, Amerika Serikat memegang peranan vital bagi konsumsi energi harian warga Eropa.
Data pemerintah AS menunjukkan porsi ekspor diesel ke Eropa melonjak mendekati 50% pada Agustus. Angka itu jauh di atas rata-rata sepanjang tahun yang berada di kisaran sepertiga dari total impor diesel Eropa.
Ketergantungan Eropa terhadap diesel AS bukan persoalan baru. Sejak sanksi terhadap minyak Rusia diberlakukan, pasokan dari Timur bergeser ke Barat. Rusia sebelumnya menjadi pemasok utama produk olahan minyak bagi kawasan itu.
Eskalasi konflik di Timur Tengah memperparah situasi. Jalur pelayaran yang membawa bahan bakar mentah dan produk olahan ke Eropa menghadapi risiko gangguan. Ditambah lagi, sejumlah kilang minyak di kawasan tersebut rusak akibat perang.
Kondisi itu membuat Eropa tidak punya banyak pilihan pemasok alternatif dalam jangka pendek. Amerika Serikat menjadi penopang utama, terutama untuk kebutuhan diesel yang dipakai sektor transportasi dan industri.
Penghentian ekspor selama 90 hari akan memukul langsung pasokan bahan bakar Eropa. Stok diesel di kawasan itu diperkirakan menipis dalam hitungan pekan jika tidak ada tambahan pasokan.
Harga bahan bakar di pasar spot Eropa berpotensi melonjak. Kenaikan itu akan merembet ke biaya transportasi, ongkos produksi industri, hingga harga barang konsumsi.
Bagi pelaku pasar energi, ancaman Trump ini menambah ketidakpastian yang sudah tinggi. Trader dan importir Eropa kemungkinan mempercepat pembelian dari sumber lain, meski dengan premi harga lebih mahal.
Komisi Eropa menyuarakan kekhawatiran mendalam atas rencana Washington. Brussels menilai kebijakan sepihak itu berisiko mengganggu stabilitas pasar energi global.
Uni Eropa disebut tengah menjajaki opsi mempercepat impor dari pemasok alternatif seperti Timur Tengah, Afrika Utara, dan India. Namun, kapasitas tambahan dari negara-negara itu terbatas dan tidak bisa menutup kekosongan dalam waktu singkat.
Beberapa negara anggota juga mendorong penggunaan cadangan strategis. Langkah itu dianggap sebagai penambal sementara sebelum pasokan normal kembali.
Ancaman Trump mencerminkan pergeseran prioritas kebijakan energi AS ke arah domestik. Washington ingin menekan harga bahan bakar di dalam negeri menjelang tekanan politik yang meningkat.
Jika kebijakan itu benar-benar diterapkan, arus perdagangan diesel global akan berubah. Eropa harus mencari pemasok baru, sementara AS kehilangan salah satu pasar ekspor produk olahannya yang paling besar.
Pelaku usaha di Indonesia perlu mencermati dampak tidak langsungnya. Kenaikan harga diesel di Eropa bisa mempengaruhi harga minyak mentah dan produk olahan di pasar Asia, termasuk biaya impor bahan bakar industri dalam negeri.