MALUKU — FinDreams Battery, anak perusahaan BYD, menandatangani kerja sama dengan Changsha Fusheng Technology pada 7 September 2026 untuk mengadaptasi Baterai Blade pada lokomotif kereta industri dan pertambangan. Kesepakatan yang diteken di kantor pusat BYD di Pingshan, Shenzhen, ini menandai langkah pertama BYD masuk ke sektor transportasi rel setelah sebelumnya menggarap truk dump dan truk tambang listrik. Detail investasi, volume pasokan, dan jadwal komersialisasi belum diumumkan.
FinDreams Battery memegang tanggung jawab penuh atas riset, pengembangan, dan manufaktur sel baterai dalam proyek ini. Sementara Changsha Fusheng Technology menangani integrasi sistem kontrol serta pengembangan aplikasi dengan memanfaatkan teknologi Battery Management System (BMS) dan kontrol elektronik bawaan mereka. Pembagian peran itu disepakati agar baterai rel yang dihasilkan memenuhi standar kualifikasi otomotif alias automotive-grade.
Baterai Blade versi rel ini ditujukan untuk lokomotif yang beroperasi di fasilitas pabrik, area tambang, dan depo kereta api. Penggunaannya mencakup aktivitas lansir atau shunting, yakni proses memindahkan dan merangkai gerbong, serta transportasi lokal di dalam area pabrik. Standar automotive-grade diterapkan untuk menjamin ketahanan dan keamanan baterai di lingkungan kerja berat.
Meski aplikasi pada lokomotif rel tergolong baru, BYD sudah terbiasa mengaliri daya kendaraan berukuran raksasa. Pada Juni 2026, BYD menyerahkan 100 unit truk dump listrik T31 kepada perusahaan transportasi konstruksi di Shenzhen. Setiap truk jumbo itu dibekali Baterai Blade berkapasitas 424 kWh.
Selain truk dump, BYD punya truk traktor listrik tipe Q3 yang juga memakai Baterai Blade. Lini truk berat listrik ini dijadwalkan tampil di pameran otomotif IAA di Jerman. Ekspansi ke segmen rel melengkapi langkah FinDreams sebelumnya, yang pada 5 September 2026 menjalin kerja sama dengan Zero Carbon Engine Technology Group untuk proyek truk tambang listrik di Mongolia.
BYD saat ini menyandang status produsen dan pemasok baterai kendaraan listrik terbesar kedua di Tiongkok. Sepanjang Januari hingga Juli 2026, kapasitas terpasang baterai BYD mencapai 72 GWh di pasar domestik, setara sekitar 18 persen pangsa pasar. Posisinya berada di bawah CATL yang menguasai 46 persen pasar dengan instalasi 186 GWh pada periode yang sama.
Sejumlah informasi kunci masih tertahan. Nilai investasi, volume pasokan baterai, spesifikasi teknis lokomotif, hingga jadwal pengoperasian komersial belum dipublikasikan ke publik. Yang jelas, kemitraan ini memperluas peta penggunaan Baterai Blade di luar mobil penumpang, mencakup transportasi rel industri, kendaraan tambang, dan truk berat.
Bagi pasar Indonesia, langkah BYD ini belum berdampak langsung. Namun arah ekspansi FinDreams ke kendaraan berat non-jalan raya memberi gambaran ke mana teknologi Blade akan dibawa, terutama ketika BYD tengah memperkuat lini kendaraan listriknya di Tanah Air.