MALUKU — Korea Selatan dan Jepang akan bertemu di final sepak bola Asian Games, mengulang duel dua edisi sebelumnya yang selalu dimenangkan Korea Selatan dengan skor 2-1. Laga ini menjadi kesempatan Korea Selatan mempertahankan takhta sekaligus ajang balas dendam Jepang di hadapan pendukung sendiri.
Partai puncak cabang sepak bola Asian Games mempertemukan Korea Selatan melawan Jepang. Bagi Korea Selatan, ini bukan sekadar laga medali emas, melainkan upaya menjaga dominasi yang sudah terbangun bertahun-tahun di ajang ini.
Korea Selatan adalah penguasa sepak bola Asian Games dengan koleksi enam medali emas, terbanyak di antara negara mana pun. Mereka juga menjadi tim dengan keberhasilan masuk final terbanyak, yakni sembilan kali.
Jalur ke final kali ini ditempuh dengan performa impresif. Korea Selatan mengalahkan Qatar 4-1 dan menghajar Arab Saudi 2-0 di fase grup. Di perempat final, Vietnam ditaklukkan 4-0, sebelum China dihempaskan 2-1 di semifinal.
Jepang datang dengan misi balas dendam. Dua kekalahan di final edisi sebelumnya jelas menyakitkan, dan kali ini mereka bermain dengan dukungan lebih banyak suporter karena berstatus tuan rumah.
Sebagai salah satu kekuatan sepak bola Asia, Jepang baru sekali memenangkan emas Asian Games, yakni pada 2014. Secara total, Jepang empat kali masuk final dengan tiga kekalahan, jumlah yang sama dengan yang dialami Korea Selatan.
Di fase grup, Jepang tampil sempurna dengan tiga kemenangan dan mencetak 12 gol tanpa pernah kebobolan. Namun di fase knock out, perlawanan mulai sengit.
Jepang menang tipis 1-0 atas Korea Utara, lalu harus melewati adu penalti untuk menyingkirkan Uzbekistan. Dua laga itu menunjukkan bahwa jalan Jepang ke final tidak semulus statistik fase grupnya.
Ini adalah pertemuan ketiga berturut-turut di final Asian Games antara Korea Selatan dan Jepang. Dua edisi sebelumnya berakhir sama: Korea Selatan menang 2-1.
Bagi Korea Selatan, kemenangan berarti mempertahankan takhta dan menegaskan dominasi. Bagi Jepang, ini kesempatan memutus tren sekaligus meraih emas pertama sejak 2014 di hadapan publik sendiri.