LANGGUR — Kegiatan pendampingan IKM kelapa di Maluku Tenggara dirangkai dalam sosialisasi dan bimbingan teknis selama empat hari. Pelaku usaha yang terlibat mendapat materi soal pengetahuan kewirausahaan hingga keterampilan produksi. Program diarahkan agar komoditas kelapa diolah menjadi produk bernilai tambah, bukan dijual dalam bentuk bahan mentah.
Kepala Bagian Program dan Kerja Sama Ditjen IKMA Kementerian Perindustrian, Anindita Rumanti, menyebut pemilihan Maluku Tenggara tidak lepas dari terbatasnya pagu anggaran yang tersedia. Menurutnya, kondisi itu membuat program tidak bisa menjangkau seluruh daerah di Maluku pada periode ini.
"Karena saat ini kami secara anggaran hanya bisa memberikan ke Maluku Tenggara. Jadi ada tetap batasan dalam penganggaran, tapi kami tetap mengusahakan supaya daerah di timur tetap mendapatkan pendampingan dari Kementerian Perindustrian melalui Ditjen IKMA," ujar Anindita.
Pernyataan itu sekaligus menegaskan bahwa Maluku Tenggara merupakan satu-satunya penerima program pendampingan di Provinsi Maluku.
Materi pelatihan disusun untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha dari dua sisi sekaligus. Sisi pertama menyangkut pengetahuan kewirausahaan, sisi kedua menyentuh keterampilan teknis di lini produksi. Kombinasi keduanya diharapkan membuat pelaku IKM kelapa lebih siap mengembangkan usahanya.
Pemerintah daerah dan pelaku usaha setempat diminta memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Sebab, tidak setiap tahun daerah di Maluku kebagian program pendampingan serupa dari kementerian.
Dukungan lanjutan, terutama untuk membuka akses pasar bagi produk olahan kelapa Maluku Tenggara, belum bisa dipastikan jadwalnya. Ditjen IKMA menyatakan hal itu masih bergantung pada kemungkinan penganggaran di program berikutnya.
Kelapa selama ini menjadi salah satu komoditas andalan di Maluku Tenggara. Selama pendampingan berjalan, pelaku IKM berharap ada kejelasan soal pendampingan lanjutan agar hasil pelatihan tidak berhenti di ruang sosialisasi.