SERAM BAGIAN TIMUR — Dwi Wahyuni, S.KM., M.Kes., menjalankan peran sebagai fasilitator Posyandu bidang kesehatan sekaligus narasumber pelatihan 25 kompetensi dasar kader Posyandu. Cakupan kegiatannya meliputi 22 puskesmas dan desa-desa di Kecamatan Bula. Pelatihan ini menyasar kemampuan dasar kader dalam menjalankan peran sesuai pedoman yang berlaku.
Kader Posyandu adalah unsur masyarakat yang mendukung pelayanan di tingkat desa dan kelurahan. Mereka menggerakkan partisipasi warga, membantu pelaksanaan pelayanan sesuai kewenangan, dan menjalin komunikasi dengan tenaga kesehatan. Karena itu, penguatan kapasitas kader menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas layanan Posyandu di daerah.
Dwi lahir di Masohi, Maluku, pada 28 April 1985. Ia menempuh pendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat di Universitas Muslim Indonesia pada 2003–2007. Pendidikan itu menjadi dasar akademiknya sebelum berkarier di lingkungan pelayanan kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia melanjutkan Magister Kesehatan Masyarakat di UMI pada periode 2024–2026. Bidang kesehatan masyarakat menaruh perhatian pada pencegahan penyakit, promosi kesehatan, pengelolaan program, dan pemberdayaan warga. Pengetahuan kesehatan perlu disampaikan lewat pendekatan yang bisa dipahami dan diterapkan masyarakat.
Pada 2011–2012, Dwi menjabat Kepala Tata Usaha Puskesmas Banggoi di bawah Dinas Kesehatan Kabupaten Seram Bagian Timur. Puskesmas memiliki peran penting dalam pelayanan kesehatan tingkat pertama, termasuk pelaksanaan berbagai program kesehatan masyarakat di wilayah kerjanya.
Administrasi dan koordinasi menjadi bagian yang mendukung kelancaran kegiatan di Puskesmas. Pengalaman di Banggoi menjadi salah satu tahap dalam perjalanan pengabdian Dwi di lingkungan kesehatan daerah. Seiring waktu, tanggung jawabnya berkembang ke bidang promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat pada tingkat kabupaten.
Bagi Dwi, penguatan kader tidak cukup dilakukan hanya dengan menyampaikan materi. Diperlukan komunikasi, diskusi, dan koordinasi agar kader memahami tugasnya serta dapat bekerja bersama petugas kesehatan. Pelatihan menjadi ruang untuk membangun pemahaman bersama antara kader dan tenaga kesehatan di lapangan.
Pelayanan kesehatan masyarakat tidak selalu dimulai dari ruang pemeriksaan dokter atau fasilitas kesehatan besar. Di banyak desa, upaya menjaga kesehatan keluarga justru dimulai dari kegiatan Posyandu. Kader membantu mengajak warga datang, memberikan informasi, dan mendukung pelayanan bersama tenaga kesehatan.
Perjalanan Dwi memperlihatkan bagaimana pendidikan kesehatan masyarakat diterapkan melalui pekerjaan yang dekat dengan kebutuhan warga. Dari kampus FKM UMI hingga desa-desa di Seram Bagian Timur, penguatan kader Posyandu menjadi salah satu jalur menjaga layanan kesehatan tetap berjalan di tingkat paling dasar.