JAKARTA — Nama Rivas Manuhutu mencuat di kalangan pengamat sepak bola nasional. Bek kiri berusia 19 tahun itu dinilai punya modal lengkap untuk masuk dalam pemantauan PSSI. Darah Maluku mengalir dari pihak ayahnya yang berakar dari Negeri Haria, Pulau Saparua, Maluku Tengah.
Pemain kelahiran Vlaardingen, Belanda, 2 Juli 2007 ini kini memperkuat PSV Eindhoven. Posisi utamanya bek kiri, tetapi ia juga fleksibel dimainkan sebagai bek tengah. Fleksibilitas itu menjadi nilai tambah tersendiri di skema pertahanan modern.
Karier Manuhutu dibangun lewat jalur pembinaan elite Belanda. Ia memulai dari akademi Sparta Rotterdam, lalu pindah ke Feyenoord, sebelum bergabung dengan PSV Eindhoven pada 2022.
Perkembangan bakatnya membuat PSV memperpanjang kontrak pada 27 Mei 2025. Kontrak baru itu mengikatnya hingga Juni 2027. Manajemen PSV jelas melihat potensi jangka panjang pada pemain bertahan ini.
Bersama PSV U-19, Manuhutu dipercaya tampil di ajang UEFA Youth League. Pengalaman bertanding di kompetisi antarklub Eropa level junior itu menambah jam terbangnya menghadapi lawan-lawan berkualitas.
Manuhutu melakoni debut profesional bersama Jong PSV di kasta kedua Liga Belanda. Debut itu terjadi saat melawan FC Emmen pada 31 Januari 2025. Kesempatan bermain di level senior, meski masih bersama tim cadangan, menjadi langkah penting dalam kariernya.
Performa impresifnya juga menarik perhatian Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB). Ia berhasil menembus Timnas Belanda U-19 dan mencatatkan debut pada 3 September 2025 saat menghadapi Spanyol U-19. Total ia mengoleksi enam penampilan di level tersebut.
Rekam jejak itu membuat Manuhutu dianggap memiliki modal kuat untuk masuk dalam pemantauan PSSI. Usianya yang masih muda memberi ruang pengembangan kualitas sebagai calon penerus sektor kiri pertahanan Timnas Indonesia.
Posisi bek kiri menjadi salah satu sektor yang perlu kedalaman skuad di Timnas Indonesia. Manuhutu menawarkan opsi pemain muda dengan latar pembinaan Eropa. Kombinasi itu jarang dimiliki pemain seusianya di Tanah Air.
Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan PSSI dan tim pelatih. Proses naturalisasi atau pemanggilan pemain keturunan membutuhkan verifikasi dokumen dan komunikasi dengan klub. PSV juga punya kepentingan menjaga aset mudanya di tengah jadwal kompetisi yang padat.
Jika proses pemantauan berjalan lancar, Manuhutu bisa menjadi amunisi tambahan bagi Timnas Indonesia. Piala Asia 2027 masih menyisakan waktu bagi PSSI untuk memetakan pemain keturunan potensial, termasuk dari wilayah Maluku.