AMBON — Saadiah Uluputty menyampaikan harapan agar musyawarah berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan mengedepankan persatuan, semangat persaudaraan, serta penghormatan terhadap nilai-nilai adat yang telah menjadi fondasi kehidupan masyarakat Maluku.
Menurut legislator Dapil Maluku itu, para raja dan pemangku adat memegang peran strategis dalam menjaga keutuhan budaya, merawat kearifan lokal, serta memperkuat nilai-nilai Pela Gandong dan falsafah Siwalima sebagai perekat persaudaraan masyarakat Maluku.
Peran Raja dan Pemangku Adat dalam Menjaga Stabilitas
Saadiah menilai Majelis Latupati tidak hanya bertugas menjaga warisan budaya. Lembaga adat itu diharapkan terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam memelihara stabilitas keamanan, ketertiban, dan kedamaian di tengah masyarakat.
Ia menegaskan, peran raja dan pemangku adat tidak sebatas menjaga tradisi. Mereka juga menjadi bagian penting dalam merawat interaksi sosial yang harmonis, memperkuat persatuan, serta mewujudkan kehidupan masyarakat Maluku yang damai, aman, dan bermartabat.
Harapan untuk Kepengurusan Baru Majelis Latupati
Saadiah berharap kepengurusan baru yang terbentuk nantinya diisi figur-figur yang amanah dan memiliki komitmen kuat. Menurutnya, pengurus terpilih harus mampu melahirkan gagasan konstruktif bagi kemajuan Maluku.
"Semoga melalui musyawarah ini lahir kepengurusan yang amanah dan mampu membahas berbagai gagasan penting untuk kemajuan Maluku serta kesejahteraan masyarakat," demikian harapan Saadiah.
Momentum Penentuan Kepemimpinan Lembaga Adat
Mubes IV Majelis Latupati Provinsi Maluku menjadi momentum penting bagi lembaga adat tersebut. Forum ini menentukan kepemimpinan dan kepengurusan baru untuk masa bakti berikutnya, di samping memperkuat eksistensi lembaga adat dalam struktur masyarakat Maluku.
Kehadiran sejumlah kepala daerah dan unsur Forkopimda menunjukkan posisi Majelis Latupati sebagai bagian tak terpisahkan dari tata kelola pemerintahan dan kehidupan sosial di Maluku.