MALUKU — Keuchik Gampong Rumoh Rayeuk, A’kthaillah, menyatakan bahwa seluruh proses pendataan dan administrasi telah rampung dan diserahkan ke pemerintah kecamatan hingga kabupaten untuk diteruskan ke pusat. Namun hingga akhir pekan lalu, tidak ada satu pun bantuan yang diterima warga.
“Warga kami sangat berharap dan mendesak pemerintah pusat untuk segera mengambil tindakan nyata. Kami butuh kejelasan kapan bantuan Jaminan Hidup ini dicairkan. Sejak banjir enam bulan lalu, belum ada realisasi sama sekali terkait bantuan tersebut,” kata A’kthaillah, Sabtu (6/6/2026).
Banjir bandang yang melanda Langkahan pada akhir 2026 lalu menghancurkan rumah-rumah warga. Kini, tempat tinggal sementara (huntara) yang mereka tempati pun ikut rusak diterjang angin kencang beberapa waktu lalu. Akibatnya, sebagian warga masih mengungsi ke rumah keluarga.
A’kthaillah menambahkan, kondisi ekonomi warga semakin terpuruk karena harus berjuang bangkit di tengah keterbatasan tanpa kepastian bantuan. “Masyarakat setiap hari bertanya kepada saya, kapan Jadup cair dan sudah sampai mana prosesnya. Rumah sudah hancur karena banjir, sekarang huntara juga rusak karena angin kencang,” ujarnya.
Pihak gampong mendesak agar birokrasi dan administrasi penyaluran bantuan tidak berbelit-belit. Warga Langkahan, khususnya di Gampong Rumoh Rayeuk, membutuhkan kepastian agar bisa menata kembali kehidupan mereka secara normal.
Menurut A’kthaillah, persoalan yang dihadapi warga tidak hanya soal bantuan kelangsungan hidup. Mereka juga mempertanyakan nasib tempat tinggal: apakah pemerintah akan memperbaiki huntara yang rusak atau mempercepat pembangunan hunian tetap (huntap).
“Kondisi masyarakat sekarang sangat memprihatinkan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah pusat maupun Kementerian Sosial mengenai jadwal pencairan bantuan Jadup untuk korban banjir di Aceh Utara. Warga berharap janji yang sudah setengah tahun menggantung itu segera ditepati.