MALUKU — Kegagalan mobil baru bukan sekadar soal mesin rusak atau desain buruk. Tiga model berikut membuktikan bahwa keputusan bisnis yang salah di papan atas bisa menghancurkan produk yang sebenarnya punya potensi. Dari Amerika hingga Eropa, kisah mereka jadi studi kasus klasik di industri otomotif global.
Willys-Overland, induk Jeep saat itu, khawatir warga pinggiran kota tidak tertarik membeli kendaraan off-road polos seperti CJ-2. Solusinya? Lahirlah Jeepster pada 1948, sebuah roadster yang diklaim mewah dan hanya berpenggerak roda belakang. Ground clearance-nya rendah, persis kebalikan dari DNA Jeep sejati.
Hasilnya? Pembeli yang datang ke diler Jeep menginginkan kendaraan 4x4, bukan mobil jalan raya. Jeepster diabaikan total. Willys juga gagal beriklan dengan efektif, sehingga calon pembeli potensial tidak tahu produk ini ada. Produksi berhenti setelah tahun model 1950, dan hanya 20.000 unit berhasil terjual. Nama Jeepster sempat dihidupkan lagi pada 1966 sebagai tandingan International-Harvester Scout.
Corvair seharusnya menjadi primadona Chevrolet di era 1960-an. Diluncurkan 1959, mobil ini adalah alternatif bermesin belakang untuk VW Beetle dengan pilihan bodi coupe dan convertible. Bahkan tersedia versi turbocharged bertenaga tinggi. Namun, semuanya runtuh setelah aktivis keselamatan Ralph Nader menerbitkan buku Unsafe at Any Speed pada 1965.
Nader mengklaim suspensi belakang swing axle Corvair membuatnya rawan kecelakaan. Generasi kedua Corvair mendapat suspensi independen, tetapi reputasinya sudah hancur. Chevrolet menghentikan produksi pada 1969 dan tidak pernah lagi membuat model bermesin belakang. Padahal, mobil ini sebenarnya inovatif untuk zamannya.
Ketika Volkswagen mengakuisisi NSU pada 1969, mereka sebenarnya hanya ingin kapasitas produksi NSU. Teknologi Wankel bermasalah milik NSU langsung dibuang. Namun, ada satu model yang hampir diluncurkan: K70, sebuah sedan empat pintu bermesin depan berpendingin air. Awalnya VW membatalkannya, lalu berubah pikiran dengan satu syarat: NSU tidak boleh memilikinya.
K70 debut pada 1970 memakai logo Volkswagen. Ironisnya, varian termurahnya bersaing dengan VW 412 yang masih bermesin belakang, sementara varian tertingginya bertabrakan dengan Audi 100. Hasilnya? Hanya 210.000 unit terjual hingga 1975. NSU pun mati perlahan. K70 sebenarnya mobil modern, tetapi gagal karena tidak punya posisi jelas di jajaran produk VW.
Ketiga model ini punya satu kesamaan: pabrikan memaksakan visi yang tidak sesuai dengan ekspektasi pasar. Jeepster mengabaikan identitas off-road, Corvair dihantam isu keselamatan, dan K70 tidak punya ceruk pasar yang jelas. Bagi konsumen Indonesia, kisah ini mengingatkan bahwa memilih mobil bukan hanya soal spesifikasi, tetapi juga rekam jejak pabrikan dalam memahami kebutuhan pelanggan.