MALUKU — Pertandingan pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan di Estadio Azteca menyisakan fakta unik di luar lapangan. Sistem peringatan geologi pemerintah Meksiko melaporkan gempa bumi mikro pada pukul 13.10 waktu setempat, momen yang persis sama ketika Julian Quinones menjebol gawang lawan pada menit kesembilan. Pihak berwenang mencatat getaran itu masuk kategori sangat lemah dengan fase awal nyaris tak terdeteksi, sehingga peringatan dini tidak diperlukan.
Ini bukan pertama kalinya momen krusial di Piala Dunia bertepatan dengan aktivitas seismik di Meksiko. Pada Piala Dunia 2018, gempa mengguncang kota kelahiran Hirving Lozano tak lama setelah ia mencetak gol kemenangan melawan Jerman. Para ahli geologi menegaskan tidak ada studi yang membuktikan bahwa teriakan atau lompatan suporter mampu memicu pergerakan lempeng bumi.
Di forum daring, warganet Meksiko menyambut fenomena ini dengan candaan. Sebagian menyebut Quinones sebagai "penyihir" karena dinilai mampu membuat bumi "meledak" lewat golnya. Tak sedikit pula yang menjadikan momen ini sebagai bukti betapa sepak bola telah menjadi denyut nadi emosional masyarakat Meksiko.
Gol pembuka skor di laga pembuka Piala Dunia 2026 itu sekaligus mencatatkan rekor tersendiri. Julian Quinones, lahir di Kolombia dan kemudian memilih membela timnas Meksiko, tercatat sebagai pemain naturalisasi pertama dalam sejarah yang mencetak gol pertama dalam sebuah edisi Piala Dunia. Ia memanfaatkan kesalahan pemain belakang Afrika Selatan untuk melepaskan tembakan yang tak mampu dihalau kiper.
Keunggulan Meksiko kemudian digandakan pada menit ke-67 melalui sundulan jarak dekat Raul Jimenez. Kemenangan 2-0 ini menjadi awal manis bagi Meksiko sebagai salah satu dari tiga negara tuan rumah, selain Amerika Serikat dan Kanada. Namun, pertandingan ini juga mencatatkan rekor kurang mengenakkan: tiga kartu merah dikeluarkan wasit, menjadikannya laga pembuka Piala Dunia dengan jumlah kartu merah terbanyak sepanjang sejarah.
Badan geologi Meksiko menekankan bahwa gempa mikro yang terekam adalah peristiwa alam biasa yang sering terjadi di wilayah rawan seismik. Tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim bahwa luapan emosi puluhan ribu suporter di stadion dapat menyebabkan getaran seismik yang tercatat oleh instrumen sensitif. "Ini hanya kebetulan yang menarik," demikian pernyataan resmi pihak berwenang, seraya mengingatkan publik untuk tidak mengaitkan peristiwa alam dengan aktivitas manusia yang sifatnya lokal.
Meski demikian, narasi kebetulan ini telah menyebar luas di media sosial dan menjadi bahan diskusi hangat di kalangan penggemar sepak bola global. Fenomena serupa di masa lalu, termasuk insiden Lozano pada 2018, kerap dijadikan bahan lelucon yang memperkuat stereotip tentang fanatisme suporter Meksiko terhadap tim nasionalnya.