MALUKU — Tesla mengumumkan pembukaan lokasi pertamanya di Latvia pada 21 Agustus mendatang, berupa pop-up store di pusat perbelanjaan Spice di Riga. Sebelum toko resmi beroperasi, konsumen Latvia sudah bisa melakukan konfigurasi dan pemesanan Model 3 dan Model Y secara daring. Langkah ini menyusul peluncuran Tesla di Lithuania pada 2024 dan Estonia pada April lalu.
Untuk pasar Latvia, Tesla membanderol Model 3 versi penggerak roda belakang mulai €30.990 (sekitar Rp 495 juta) hingga €48.990 untuk varian Performance, belum termasuk PPN 21%. Model Y dibuka dari €34.490 (sekitar Rp 551 juta) dan mencapai €53.490 untuk varian tertinggi. Pesanan yang masuk sekarang diperkirakan akan dikirim antara September hingga November.
Sehari sebelumnya, Elon Musk mengonfirmasi kehadiran Tesla di Uruguay melalui unggahan di media sosial. Tesla menggelar presentasi resmi pada Jumat lalu dengan menampilkan eksekutif dan jajaran kendaraan. Uruguay menjadi negara ketiga di Amerika Selatan yang dimasuki Tesla, setelah Chile (2024) dan Kolombia (November 2025).
Tesla menunjuk Joaquín Lizarralde sebagai country manager untuk Argentina dan Uruguay, memperlakukan kawasan itu sebagai zona operasional tunggal. Unit yang dijual di Uruguay dikirim langsung dari Gigafactory Shanghai. Harga Model 3 di Uruguay mulai dari $32.990 (versi standar jarak tempuh 534 km) hingga $49.990 (Performance), sementara Model Y dibanderol $36.490 hingga $41.490.
Meski pasar Latvia dan Uruguay tergolong kecil—Uruguay hanya mencatat kurang dari 50.000 unit kendaraan baru per tahun—tingkat adopsi kendaraan listrik di sana justru tinggi. Di Uruguay, pangsa pasar EV mencapai 20% pada 2025 dan naik ke 29% pada April 2026. Latvia mencatat pertumbuhan penjualan EV sebesar 27% year-on-year, dengan pangsa pasar 7%.
Yang menarik, Uruguay menghasilkan 99% listriknya dari energi terbarukan pada 2024, menjadikannya pasar dengan sumber listrik paling hijau yang dimasuki Tesla. Faktor ini bisa menjadi daya tarik tambahan bagi konsumen lokal yang beralih ke kendaraan listrik.
Baik Latvia maupun Uruguay secara individu tidak akan banyak mengubah angka penjualan global Tesla. Namun pola ini penting: dengan penjualan yang merosot di AS, Eropa, dan China, mengisi peta dengan pasar-pasar kecil menjadi salah satu tuas yang tersisa untuk menambah volume. Contoh dari Kolombia menunjukkan potensi—sejak meluncur di sana pada akhir 2025, Model Y menjadi kendaraan terlaris di negara itu, bukan hanya di segmen EV, dengan lonjakan registrasi 304% pada April.
Jika Tesla mampu mereplikasi pola itu di beberapa pasar kecil lainnya, angka dua juta kendaraan per tahun—target yang sempat diyakini Elon Musk akan terlampaui dua tahun lalu—bukan lagi sekadar angan-angan.