MALUKU — PLTS Atap di pabrik PT MNK ini tidak sekadar tempelan. Sistemnya menggunakan skema on-grid, yaitu panel surya terintegrasi langsung dengan jaringan listrik PLN. Pada siang hari, seluruh operasional pabrik dipasok dari tenaga surya. Saat matahari redup atau beban melonjak, pasokan dari PLN otomatis mengambil alih tanpa jeda.
Skema ini menjamin stabilitas daya yang dibutuhkan industri manufaktur sekaligus menekan biaya listrik jangka panjang. "Integrasi PLTS tidak hanya berdampak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga menawarkan efisiensi biaya operasional dan keandalan pasokan," ujar Agiya Fersya, Head of Modena Energy, dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Dari sisi lingkungan, proyek ini diperkirakan memangkas emisi karbon global hingga 360.000 kilogram CO2 setiap tahun. Angka tersebut setara dengan penanaman ribuan pohon atau pengurangan ribuan kendaraan bermotor dari jalan raya. Bagi Ancora Group, langkah ini menjadi pilot project untuk memperluas energi bersih ke seluruh lini bisnis.
General Manager Manufacture PT Multi Nitrotama Kimia, Susilo Yuwono, menegaskan bahwa implementasi PLTS Atap ini merupakan langkah awal yang krusial. "Proyek ini tidak sekadar mengejar efisiensi operasional dan pengurangan biaya kelistrikan. Tujuan utamanya adalah menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemangku kepentingan dan menjadi pilar pembangunan industri berkelanjutan," katanya.
Data Indonesia Solar Energy Outlook (ISEO) 2025 mencatat, sektor industri menjadi penggerak utama penambahan kapasitas PLTS atap di dalam negeri. Hingga akhir Juli 2024, kontribusinya mencapai 104 MWp baru. Angka ini membuktikan bahwa dekarbonisasi dan efisiensi energi telah menjadi arus utama di dunia bisnis, bukan sekadar wacana.
Modena Energy memposisikan diri sebagai mitra yang siap menghadirkan solusi energi surya secara komprehensif bagi pelaku usaha. Dengan peresmian di Cikampek ini, mereka berharap lebih banyak perusahaan manufaktur lain ikut beralih ke energi bersih. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah yang mengejar bauran energi baru terbarukan (EBT) sebesar 23 persen pada 2025.