AMBON — Bagi banyak orang Maluku, instrumen Berita Duka RRI Ambon bukan sekadar rangkaian nada. Suara itu telah menjadi tanda yang begitu khas. Bahkan tanpa mendengar penyiar menyebutkan nama stasiun radio, masyarakat yang telah lama mengenalnya seolah sudah mengetahui bahwa suara tersebut berasal dari RRI Ambon.
Ketika instrumental itu mengudara, suasana di rumah-rumah warga seketika berubah. Percakapan terhenti, perhatian tertuju kepada radio, dan ingatan pun langsung tertuju pada kabar duka dari keluarga, kerabat, sahabat, atau orang yang dikenal.
Sound effect tersebut seakan memiliki bahasa sendiri. Tidak perlu banyak kata untuk menjelaskan maknanya. Begitu nada itu terdengar, masyarakat Maluku sudah memahami bahwa RRI sedang menyampaikan sebuah kabar duka.
Bagi generasi yang tumbuh bersama radio, suara tersebut bahkan menjadi bagian dari memori masa kecil dan kehidupan keluarga.
"Kalau dengar musik itu, katong (kita) langsung tahu itu berita duka dari RRI. Belum penyiar bicara saja, sudah bisa rasa suasananya," tutur Lenly, seorang warga Ambon, mengenang pengalaman mendengarkan RRI bersama keluarganya.
Kenangan serupa juga disampaikan warga lainnya, Yancy Latupeirissa. Menurutnya, dahulu radio menjadi salah satu sumber informasi utama masyarakat, termasuk untuk mengetahui kabar duka dari berbagai pelosok Maluku.
"RRI itu dekat dengan masyarakat. Kalau ada keluarga yang meninggal di kampung atau di daerah lain, berita dukanya bisa didengar lewat RRI Ambon. Musik pengantarnya sampai sekarang masih teringat, bahkan penyiarnya seperti Any La Unga, Neles Noya, Bob Joris, Susy Nendissa masih diingat," ujarnya.
Nama-nama penyiar itu melekat seiring bunyi instrumen yang mengiringi setiap kabar duka. Bagi pendengar setia, keduanya sulit dipisahkan.
Di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan hadirnya berbagai platform digital, keberadaan radio mungkin telah mengalami perubahan. Namun, bagi sebagian masyarakat Maluku, kenangan terhadap suara khas RRI Ambon tetap memiliki tempat tersendiri.
Sound effect Berita Duka menjadi bagian dari identitas siaran yang melekat dalam ingatan kolektif masyarakat. Ia bukan hanya pengantar sebuah informasi, tetapi juga menjadi simbol dari cara masyarakat Maluku pada masa lalu dan hingga kini saling berbagi kabar tentang kehidupan, kematian, keluarga, dan komunitas.
Ada pula masyarakat yang mengaku masih dapat mengenali instrumental tersebut meskipun sudah bertahun-tahun tidak mendengarnya.
"Kalau musiknya diputar sekarang, saya yakin masih bisa langsung kenal. Itu salah satu suara yang susah dilupakan," ujar Yanci, pendengar setia RRI Ambon.
Kenangan itu menunjukkan bahwa radio tidak hanya menyampaikan informasi. Dalam perjalanan panjangnya, radio juga menyimpan suara-suara yang kemudian menjadi bagian dari sejarah kehidupan pendengarnya.
Di Hari Radio ke-81, kisah tentang sound effect Berita Duka RRI Ambon menjadi pengingat bahwa setiap generasi memiliki suara yang membentuk kenangannya.
Bagi masyarakat Maluku, instrumental Berita Duka RRI Ambon pernah dan mungkin masih menjadi salah satu suara yang paling mudah dikenali. Suara yang ketika terdengar membuat orang berhenti sejenak, mengingat keluarga, lalu menunggu dengan hati-hati nama siapa yang akan disebutkan.
Kini zaman telah berubah. Informasi dapat diterima dalam hitungan detik melalui telepon genggam dan media sosial. Namun, bagi mereka yang pernah tumbuh bersama radio, ada suara-suara tertentu yang tidak pernah benar-benar hilang.
Salah satunya adalah instrumental Berita Duka RRI Ambon. Di Hari Radio ke-81 ini, kenangan tersebut menjadi bagian dari perjalanan radio di Maluku: tentang sebuah suara yang dahulu datang melalui gelombang udara, tetapi jejaknya masih tinggal dalam ingatan banyak orang hingga hari ini.