Pencarian

BI Tahan BI-Rate di 5,75%, Perluas Insentif Hedging untuk Tahan Rupiah

Senin, 28 September 2026 • 08:05:02 WIB
BI Tahan BI-Rate di 5,75%, Perluas Insentif Hedging untuk Tahan Rupiah
Gubernur BI Destry Damayanti mengumumkan hasil RDG BI yang mempertahankan BI-Rate di 5,75%.

MALUKU — Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur 22-23 September 2026, sambil memperluas insentif lindung nilai untuk menahan tekanan terhadap Rupiah. Suku bunga deposit facility tetap 4,75% dan lending facility 6,50%. BI telah menahan suku bunga di level ini sejak Juni 2026.

Keputusan tersebut diumumkan Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers hasil RDG BI. Menurutnya, level BI-Rate saat ini masih cukup untuk menjaga stabilitas ekonomi di tengah tekanan eksternal yang belum mereda.

BI menilai strategi stabilisasi tidak cukup hanya mengandalkan suku bunga. Bank sentral memperkuat kebijakan insentif biaya hedging sebagai instrumen pendamping untuk mengurangi beban risiko valuta asing bagi pelaku pasar.

Insentif Swap dan DNDF Diperbesar

Untuk instrumen Swap Beli Lindung Nilai Konvensional, pengurangan premi ditingkatkan dari sebelumnya 12,5% untuk seluruh tenor menjadi bertingkat: 15% untuk tenor tiga bulan, 20% untuk enam bulan, dan 25% untuk 12 bulan.

Insentif untuk instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) juga diperbesar. Pengurangan premi naik dari 15% menjadi 25% untuk tenor enam bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan. Underlying pendanaan luar negeri yang berhak memperoleh insentif kini mencakup portfolio inflows, pinjaman luar negeri oleh bank, dan foreign direct investment.

Tekanan Eksternal Jadi Pertimbangan Utama

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat sehingga harga minyak sempat menyentuh US$132 per barel sebelum turun ke bawah US$100 per barel pada 22 September 2026. Kebijakan moneter global juga masih ketat dengan Fed Funds Rate berada di 3,75-4% pada September 2026.

Imbal hasil US Treasury meningkat seiring ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan tingginya defisit anggaran pemerintah Amerika Serikat. Kondisi itu membuat preferensi investor global terhadap aset portofolio di negara berkembang masih tertahan.

Dari sisi domestik, inflasi Indeks Harga Konsumen pada Agustus 2026 tercatat 3,19% secara tahunan, naik dari 2,88% pada Juli. Kenaikan terutama berasal dari kelompok volatile food yang mencapai 4,06% secara tahunan, sedangkan inflasi inti tetap terjaga di 2,92%.

BI memperkirakan ekonomi nasional tumbuh dalam kisaran 4,9-5,7% pada 2026. Kredit perbankan pada Agustus tumbuh 13,65% secara tahunan, meningkat dari 13,58% pada Juli.

Analis: BI Mulai Pisahkan Harga Uang dan Harga Risiko Valas

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai keputusan mempertahankan BI-Rate 5,75% sudah tepat. Menurutnya, tekanan terhadap Rupiah tidak harus direspons dengan menaikkan biaya dana bagi seluruh perekonomian.

"Keputusan mempertahankan BI Rate tepat. Tidak semua tekanan Rupiah harus dibayar dengan bunga yang lebih mahal bagi seluruh perekonomian. Yang lebih menarik justru bagaimana BI memperluas instrumen stabilisasi di luar suku bunga," ujar Fakhrul kepada Katadata, Rabu (24/9).

Fakhrul menilai peningkatan insentif hedging menunjukkan BI mulai membedakan instrumen untuk menghadapi risiko suku bunga dan risiko nilai tukar.

"BI mulai memisahkan harga uang dari harga risiko valuta asing. BI Rate digunakan untuk menjaga kredibilitas inflasi dan stabilitas makro, sementara swap dan DNDF dapat digunakan lebih spesifik untuk mengurangi biaya risiko valuta asing dan menarik external funding," imbuhnya.

Menurut Fakhrul, langkah BI memiliki kemiripan arah dengan kebijakan bank sentral India yang menggunakan fasilitas foreign exchange swap untuk menarik pendanaan valuta asing.

"Saya justru lebih nyaman BI memulainya secara gradual. Dua puluh lima persen cukup untuk menguji respons pasar. Kalau inflow membaik, tidak ada alasan memberikan subsidi lebih besar dari yang diperlukan," urai Fakhrul.

Dampak ke Pasar dan Pelaku Usaha

Bagi pelaku usaha yang memiliki eksposur valuta asing, penurunan biaya hedging berarti beban lindung nilai menjadi lebih ringan. Importir dan perusahaan dengan utang luar negeri bisa memanfaatkan insentif ini untuk mengunci kurs tanpa menanggung premi penuh.

Investor asing yang masih menunggu kepastian arah kebijakan The Fed, harga minyak, dan pergerakan Rupiah mendapat sinyal bahwa biaya masuk ke pasar Indonesia melalui instrumen lindung nilai kini lebih murah. Strategi ini dinilai dapat mengurangi insentif untuk terus menunda realisasi investasi portofolio.

BI menyatakan kebijakan tersebut konsisten dengan upaya menjaga inflasi dalam sasaran 2,5% plus minus 1% pada 2026 dan 2027 serta mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Follow kabarambon.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: katadata.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks