JAKARTA — Tekanan jual menyeret IHSG sejak pembukaan sesi, sejalan dengan koreksi serentak indeks regional Asia. Data inflasi CPI AS yang naik 0,6 persen secara bulanan (mtm) pada September 2026, di atas perkiraan 0,6 persen, menjadi pemicu utama sentimen negatif di pasar global.
Sementara inflasi inti AS tercatat 0,3 persen (mtm), lebih tinggi dari perkiraan 0,2 persen dan naik dari 0,3 persen pada Agustus 2026. Secara tahunan, inflasi berada di level 3,7 persen (yoy) dan inflasi inti 2,6 persen, keduanya melampaui ekspektasi pasar.
Bursa Regional Asia Kompak Tertekan
Pelemahan terjadi merata di bursa Asia pagi ini. Indeks Nikkei turun 4,70 persen ke 64.560,00, disusul Kospi yang merosot 7,50 persen ke 5.557,17. Shanghai melemah 1,56 persen ke 3.708,96, Hang Seng turun 0,17 persen ke 24.054,50, dan Straits Times melemah 0,88 persen ke 5.375,95.
Di Wall Street, penutupan Rabu (14/10) juga berakhir merah. S&P 500 melemah 1,11 persen ke level 7.718,94, Nasdaq Composite turun 1,88 persen ke 26.692,87, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,09 persen ke 51.621,48.
Berbeda dengan AS dan Asia, bursa Eropa justru menguat. Euro Stoxx 50 naik 0,33 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,70 persen, DAX Jerman naik 0,15 persen, dan CAC 40 Prancis menguat 0,58 persen.
Mengapa Inflasi AS Berdampak ke Pasar Indonesia
Ratna Lim menjelaskan bahwa pelemahan indeks di bursa AS disebabkan data inflasi CPI yang lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi itu memicu peningkatan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
"Diperkirakan IHSG bergerak sideways pada kisaran 5.800-6.000. Namun perlu diwaspadai akan penguatan harga minyak yang berlanjut serta meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed," ujar Ratna dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.
Selain inflasi, saham-saham teknologi di AS tertekan akibat kekhawatiran terhadap persaingan dari perusahaan China dan yield US-Treasury yang tinggi.
Data AS dan China yang Dinanti Pasar
Investor menantikan rilis data Producer Price Index (PPI) AS yang diperkirakan melambat menjadi 5,3 persen (yoy) pada September 2026 dari 5,4 persen (yoy) pada Agustus 2026. Data retail sales AS juga diproyeksikan melambat menjadi 0,3 persen (mtm) dari sebelumnya 1,2 persen (mtm).
Dari kawasan Asia, inflasi China naik ke level 0,9 persen (yoy) pada September 2026 dari 0,8 persen (yoy) pada Agustus. Angka itu menjadi level tertinggi sejak Juni 2026, didorong peningkatan biaya transportasi akibat kenaikan harga bensin.
Hilirisasi Nikel Sokong Sektor Baterai Domestik
Dari dalam negeri, Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) memproyeksikan kapasitas produksi bahan baku baterai meningkat hingga dua kali lipat melampaui 900.000 ton pada akhir 2027. Proyeksi itu muncul sebagai dampak hilirisasi nikel berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP).
Peningkatan kapasitas tersebut didorong masuknya proyek-proyek fasilitas pemrosesan dan pemurnian hidrometalurgi berbasis High Pressure Acid Leaching (HPAL) ke tahap operasi penuh.
"Hal ini akan menguntungkan industri baterai dan kendaraan listrik karena mendapat pasokan lebih besar dan biaya bahan baku yang kompetitif," ujar Ratna.