MALUKU — Pekan lalu, Maserati memperkenalkan versi terbaru dari GranTurismo, GranCabrio, dan Grecale yang akan menjadi tulang punggung penjualan hingga 2027. Namun di balik acara tersebut, sesi tanya jawab dengan eksekutif Maserati justru mengungkap arah strategi yang lebih menarik: masa depan sedan dan mesin V8 masih cerah, sementara PHEV tidak akan mendapat tempat.
Chief Operating Officer Maserati, Santo Ficili, mengakui bahwa V6 Nettuno yang ada saat ini adalah salah satu mesin terbaik di kelasnya. Namun ia juga sadar bahwa sebagian konsumen kelas atas tidak bisa dipuaskan hanya dengan enam silinder. “Tentu saja, kami juga mempertimbangkan V8,” ujar Ficili.
Pernyataan itu diamini oleh Kepala Teknik Davide Danesin. “Kami punya pengetahuan dan kapabilitas,” katanya. Menurut Danesin, meski V8 belum masuk peta jalan resmi, kemungkinan realisasinya justru lebih besar dibandingkan menghadirkan PHEV ke pasar.
Alih-alih plug-in hybrid, Maserati justru gencar mengembangkan arsitektur mild hybrid 48 volt yang akan menyebar ke seluruh lini model. Sistem full hybrid juga masih masuk pertimbangan. Namun untuk PHEV, Danesin tegas menolak.
“Kami punya akses ke tiga level teknologi hybrid dalam portofolio perusahaan, tapi PHEV tidak cocok dengan misi penjualan kami,” ujar Danesin. Ia menyoroti bobot baterai yang besar dan fakta bahwa banyak pemilik PHEV tidak pernah mengisi daya mobilnya, membuat baterai hanya menjadi beban mati yang memboroskan ruang dan massa.
Maserati mengakui bahwa posisi Quattroporte—yang kini dalam masa hiatus tanpa kepastian—masih sangat dirindukan. Meski Grecale sempat mengisi celah yang ditinggalkan sedan ikonik itu, pabrikan sadar ada segmen pembeli yang menginginkan mobil eksekutif beroda empat sejati.
“Benar-benar ada masa depan untuk sedan,” kata Cristiano Fiorio, kepala pemasaran Maserati. Ia mencatat bahwa Generasi Z dan Generasi Alpha mulai disebut sebagai pembeli retro-seeking, yang mulai jenuh dengan SUV dan mobil yang terlalu didominasi layar digital. “Dunia ini penuh dengan SUV,” ujarnya.
Fiorio menambahkan bahwa konsep sedan itu sendiri mungkin harus berevolusi mengikuti zaman. “Quattroporte sedang mencari sesuatu yang baru,” katanya, tanpa memberikan detail lebih lanjut soal bentuk atau platform yang akan digunakan.
Keputusan ini memberi kejelasan bagi penggemar setia yang masih menanti kehadiran mesin V8 di lini Maserati. Alih-alih mengikuti tren PHEV yang penuh kompromi berat, Maserati memilih jalur hibrida ringan yang lebih ringan dan tetap mempertahankan karakter berkendara khas Italia.
Bagi mereka yang menantikan Quattroporte baru, kabar ini juga positif: Maserati secara eksplisit berkomitmen menghadirkan sedan empat pintu lagi, meski wujud pastinya masih misteri. Namun satu hal sudah pasti—jangan berharap versi colok-listrik dari sedan tersebut akan muncul dalam waktu dekat.