MALUKU — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa pasar PHEV sempat mati suri selama bertahun-tahun. Pada 2019, distribusi PHEV hanya 25 unit, lalu ambles 68 persen menjadi delapan unit di 2020. Meski sempat bangkit ke 46 unit pada 2021, pasar kembali terperosok ke level 10 unit di 2022. Titik balik baru terjadi pada 2023 ketika penjualan melonjak 1.180 persen menjadi 128 unit, berkat kehadiran model-model baru dari beberapa produsen.
Lonjakan 2025 Dipicu Agresivitas Pabrikan China
Momentum 2023 berlanjut ke 2024 dengan pertumbuhan tipis 6,25 persen menjadi 136 unit. Namun, ledakan sesungguhnya terjadi pada 2025. Kehadiran merek-merek asal China yang gencar menawarkan produk PHEV dengan banderol harga bersaing mengubah peta persaingan secara drastis. Distribusi PHEV melonjak 3.775 persen menjadi 5.270 unit dalam satu tahun.
Tren ini masih berlanjut hingga awal 2026. Sepanjang Januari hingga April 2026, distribusi PHEV sudah mencapai 2.078 unit. Jumlah itu setara dengan 39,4 persen dari total penjualan sepanjang tahun 2025, menandakan permintaan pasar masih tinggi.
Chery Kuasai Puncak, Wuling dan Geely Ikut Bersaing
Persaingan antar merek di segmen ini kian sengit. Chery menjadi pemain paling dominan berkat performa kuat lini produknya. Chery Tiggo 8 CSH memimpin pasar dengan distribusi 956 unit, disusul Chery Tiggo 9 CSH yang mencatatkan 223 unit.
Wuling berhasil menempatkan dua model PHEV di jajaran atas. Darion PHEV mencatatkan 214 unit, sementara Eksion PHEV terjual 193 unit. Di belakangnya, Geely Starray EM-i membukukan 187 unit, diikuti Jaecoo J7 SHS dengan 147 unit dan Jaecoo J8 SHS sebanyak 119 unit.
Mengapa PHEV Kian Dilirik Konsumen Indonesia?
PHEV menggabungkan mesin bensin dengan motor listrik dan baterai berkapasitas lebih besar dibanding hybrid konvensional. Baterai pada PHEV bisa diisi ulang dari stop kontak rumah atau stasiun pengisian kendaraan listrik, memungkinkan mobil beroperasi murni dengan tenaga listrik untuk jarak 30 hingga 100 kilometer, tergantung model.
Ketika daya baterai menipis, mesin bensin akan mengambil alih sehingga pengemudi tidak perlu khawatir kehabisan energi di tengah perjalanan jauh. Sistem pengereman regeneratif juga membantu mengisi ulang baterai saat kendaraan melambat. Kombinasi ini membuat PHEV dipandang sebagai solusi transisi yang menarik: menawarkan efisiensi dan emisi lebih rendah, namun tetap mempertahankan fleksibilitas kendaraan konvensional.
Dengan makin banyaknya pilihan model dan harga yang semakin kompetitif, segmen PHEV diperkirakan akan terus bertumbuh. Kehadirannya menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin merasakan pengalaman berkendara listrik tanpa harus bergantung penuh pada infrastruktur pengisian daya yang belum merata di Indonesia.