JAKARTA — IHSG dibuka menguat tipis 4,63 poin atau 0,08 persen ke posisi 6.112,84 pada Jumat pagi. Namun, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico mengatakan potensi pelemahan masih terbuka lebar dengan rentang support dan resistance di level 6.000 hingga 6.220.
Konflik Iran-AS Dorong Harga Minyak, Bebani Pasar Modal
Dari mancanegara, ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama. AS terus melancarkan serangan ke Iran untuk melemahkan kemampuan militernya, sementara Iran membalas dengan menargetkan pangkalan AS di Kuwait dan Yordania. Iran juga meminta sekutunya, Houthi di Yaman, untuk tetap menutup Selat Hormuz.
Dampaknya langsung terasa. Pengiriman minyak melalui Selat Hormuz turun drastis dari 9,4 juta barel menjadi 5,5 juta barel. Harga minyak mentah pun melonjak: WTI ditutup di 79,55 dolar AS per barel dan Brent di 84,23 dolar AS per barel pada Kamis (16/07).
“Pelaku pasar dan investor, mungkin akan menghadapi masa-masa sulit, terutama bagi IHSG dan pasar obligasi untuk bisa bangkit kembali,” ujar Nico. Ia menambahkan, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed berpotensi meningkat cepat jika harga energi tidak terkendali akibat perang tersebut.
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp 8.000 Triliun, Risiko Refinancing Terjaga
Dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) melaporkan utang luar negeri (ULN) Indonesia pada Mei 2026 mencapai 462,4 miliar dolar AS, setara sekitar Rp8.000 triliun. Angka ini tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Meski nominalnya besar, rasio ULN terhadap PDB masih di kisaran 30,6 persen. Sekitar 84,6 persen dari total utang merupakan utang berjangka panjang, sehingga risiko pembiayaan kembali (refinancing risk) dinilai relatif terjaga.
Nico menilai kenaikan ULN ini menunjukkan pemerintah masih memanfaatkan pembiayaan eksternal untuk mendukung APBN dan pembangunan. “Namun, pelemahan Rupiah dan tingginya suku bunga global berpotensi meningkatkan beban pembayaran utang ke depan,” ujar Nico. Ia menambahkan, selama dana utang digunakan untuk sektor produktif dan disiplin fiskal tetap terjaga, kenaikan ULN diperkirakan belum menjadi risiko signifikan bagi stabilitas ekonomi Indonesia.
Bursa Global dan Regional: Wall Street Melemah, Asia Variatif
Pada perdagangan Kamis (16/07), bursa Eropa bergerak variatif. Euro Stoxx 50 menguat 0,25 persen, FTSE 100 Inggris menguat 0,54 persen, sementara DAX Jerman melemah 0,34 persen dan CAC 40 Prancis melemah 0,05 persen.
Di Wall Street, seluruh indeks utama ditutup melemah. S&P 500 turun 0,51 persen ke 7.533,77, Nasdaq Composite anjlok 1,62 persen ke 29.025,77, dan Dow Jones Industrial Average melemah 0,20 persen ke 52.552,97.
Bursa Asia pagi ini juga menunjukkan tekanan. Nikkei melemah 4,22 persen ke 64.016,00, Shanghai turun 1,50 persen ke 3.823,95, dan Shenzhen melemah 3,20 persen ke 14.024,53. Sementara itu, Hang Seng justru menguat 1,55 persen ke 24.602,00, dan Strait Times melemah tipis 0,38 persen ke 5.518,77.