Tom's Hardware baru saja merilis hasil pengujian komprehensif terhadap empat jenis drive lama yang dipasang di berbagai enclosure, dari yang seharga $8 hingga $79. Tujuannya sederhana: membuktikan apakah meng-upcycle drive bekas masih layak di tengah gempuran produk baru yang harganya melambung. Jawabannya, untuk sebagian besar pengguna, sangat layak.
Tim penguji menggunakan Western Digital WD5000BPVT, hard disk 2,5 inci lawas (2011) yang hanya mampu membaca dan menulis di bawah 90 MB/detik. Drive ini cocok untuk backup bertahap atau memindahkan file sesekali—bukan untuk kerja berat.
Lompatan signifikan terjadi pada Samsung 850 Pro (2014), SATA SSD yang di enclosure Orico 5 Gbps menghasilkan kecepatan 4-5 kali lipat dari hard disk, atau sekitar 500 MB/detik. "Kecepatan ini sudah cukup untuk tugas mainstream, bahkan menjalankan program," tulis reviewer Tom's Hardware.
Untuk pengguna yang membutuhkan transfer data besar, Intel 660p PCIe 3.0 NVMe (2019) menjadi pilihan menarik. Di enclosure 10 Gbps, drive ini menembus 1.000 MB/detik—hampir menyamai Kingston Dual Portable SSD yang saat artikel ini ditulis dijual $226. Ketika dipindahkan ke enclosure Asus ROG 20 Gbps, kecepatannya mendekati 2.000 MB/detik, hanya 5% lebih lambat dari Crucial X10 yang harganya jauh lebih mahal.
Bagi mereka yang mengejar performa maksimal—misalnya untuk editing video 4K, animasi, atau menjalankan model AI lokal—Tom's Hardware menguji Gigabyte Aorus 12000 PCIe 5.0 di enclosure OWC Express 1M2 USB4 (40 Gbps). Hasilnya, kecepatan baca-tulis menembus 3.700 MB/detik. Dalam pengujian transfer file 50 GB, drive rakitan ini unggul 38% dalam kecepatan baca dan 70% dalam kecepatan tulis dibanding Corsair EX400U yang harganya lebih dari $600 untuk kapasitas 2 TB.
"Bahkan jika Anda harus membeli drive PCIe 4 atau 5 baru dan enclosure di bawah $100, Anda masih bisa menghemat ratusan dolar dibanding membeli drive USB4 komersial," tulis reviewer tersebut.
Meski menggiurkan, ada risiko yang perlu diwaspadai. Drive yang sebelumnya digunakan sebagai boot drive selama bertahun-tahun mungkin sudah berada di ujung masa pakainya. "Tidak ada yang mau merakit drive eksternal hanya untuk melihatnya mati setelah beberapa minggu atau bulan pemakaian," tulis Tom's Hardware. Pastikan untuk memeriksa kesehatan drive—misalnya dengan aplikasi seperti CrystalDiskInfo—sebelum menyimpan data penting di dalamnya.
Kesimpulannya, di saat harga komponen sedang tidak bersahabat, membangun sendiri SSD eksternal dari drive lama bukan hanya opsi hemat, tapi juga bisa memberikan performa yang tidak kalah dari produk premium. Bagi pengguna Indonesia, enclosure murah bisa didapatkan di marketplace dengan harga mulai Rp150 ribuan, menjadikan solusi ini relevan untuk mengatasi lonjakan harga tanpa mengorbankan kecepatan.