MALUKU — Kekalahan dari Vietnam di Stadion Pakansari, Senin (3/8), bukan sekadar kehilangan tiga poin. Lebih dari itu, performa buruk lini belakang dan tumpulnya serangan Indonesia menjadi alarm keras yang menuntut respons cepat Herdman di tengah padatnya jadwal turnamen.
Dengan status wajib menang melawan Singapura, pelatih asal Inggris itu tidak punya banyak waktu untuk memperbaiki mental pemain. Rotasi pemain dan perubahan taktik menjadi langkah paling realistis yang bisa dieksekusi dalam waktu singkat.
Formasi tiga bek yang diandalkan Herdman terbukti rapuh saat menghadapi tekanan tinggi Vietnam. Duet Rizky Ridho dan Jordi Amat gagal membaca pergerakan penyerang lawan, sementara Shayne Pattynama kerap kehilangan posisi saat naik membantu serangan.
Masalahnya bukan pada skema, melainkan kesadaran posisional para pemain. Kekosongan di sisi sayap pertahanan sering kali ditinggal tanpa penutup yang memadai, membuat lawan leluasa menusuk dari sektor tersebut.
Sorotan tajam juga mengarah ke penjaga gawang Nadeo Argawinata. Penempatan posisinya yang kurang jeli menyebabkan tiga gol dari Vietnam dan Kamboja bersarang di tiang dekat yang seharusnya mudah diamankan.
Kesalahan berulang ini membuat posisi kiper Persija Jakarta itu terancam diganti. Herdman bisa saja memberikan kesempatan kepada penjaga gawang lain yang lebih stabil dalam mengantisipasi tembakan jarak dekat.
Kekalahan dari Vietnam tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada barisan pertahanan. Lini tengah yang gagal memutus distribusi bola lawan serta penyerang yang jarang memberikan tekanan efektif ikut berkontribusi terhadap kekacauan di lini belakang.
Herdman perlu mencari formula baru di sektor tengah agar transisi bertahan dan menyerang lebih seimbang. Rotasi besar kemungkinan akan menyentuh beberapa posisi kunci, mengingat kondisi fisik pemain yang terus menurun seiring bertambahnya jumlah pertandingan.
Menghadapi Singapura, Indonesia tidak punya pilihan selain tampil agresif sejak menit awal. Satu hasil imbang pun akan membuat peluang lolos ke semifinal semakin menipis, sehingga kemenangan menjadi harga mati bagi Pasukan Garuda.