World Tourism Day 2026 di Hila Maluku Tengah, Konservasi Mangrove hingga Jelajah Benteng Amsterdam

Penulis: Kaharuddin Yusuf  •  Minggu, 27 September 2026 | 10:31:01 WIB
Peserta membersihkan kawasan pesisir dalam rangkaian World Tourism Day 2026 di Negeri Hila, Maluku Tengah.

MALUKU TENGAH — Rangkaian kegiatan berpusat di kawasan Benteng Amsterdam, Negeri Hila. Peserta membersihkan kawasan pesisir, menanam dan membibitkan mangrove, serta melakukan pembibitan karang melalui kolaborasi dengan Spice Island Divers & Resort.

Pembibitan Karang Libatkan Operator Wisata Selam

Kolaborasi dengan Spice Island Divers & Resort menempatkan pembibitan karang sebagai salah satu agenda utama. Pendekatan itu menyatukan pelaku usaha wisata selam dengan warga dan peserta kegiatan lainnya.

Peserta tidak hanya membersihkan pesisir, tetapi juga menanam dan membibitkan mangrove di lokasi yang sama. Dua agenda lingkungan itu dijalankan berdampingan dalam satu rangkaian acara.

Diskusi Ekosistem Pesisir Bersama Dr. Renoldy Papilaya

Diskusi mengenai ekosistem pesisir digelar dengan menghadirkan Dr. Renoldy Papilaya, M.P. Materi yang dibahas mencakup fungsi ekologis dan sosial kawasan pesisir serta kaitannya dengan kehidupan masyarakat.

Dalam kegiatan itu, peserta diajak melihat kawasan pesisir tidak hanya sebagai bagian dari daya tarik wisata, tetapi juga sebagai ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat.

Heritage Walk Susuri Benteng Amsterdam dan Gereja Tua Hila

Selain agenda lingkungan, peserta mengikuti heritage walk dengan mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Hila. Dua lokasi yang disebut antara lain Benteng Amsterdam dan Gereja Tua Hila.

Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkenalkan warisan sejarah dan budaya di Hila sekaligus melihat keterkaitannya dengan pengembangan pariwisata.

Gerakan Pariwisata Berkelanjutan Libatkan Banyak Pihak

Peringatan World Tourism Day 2026 di Hila menjadi bagian dari gerakan pariwisata berkelanjutan. Pemerintah, perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, masyarakat, sekolah, dan pelaku usaha terlibat dalam kegiatan itu.

Keterlibatan sekolah menempatkan generasi muda sebagai peserta aktif, bukan sekadar penonton. Sementara lembaga kebudayaan berperan pada bagian heritage walk dan pengenalan situs bersejarah.

Dengan menggabungkan konservasi pesisir dan jelajah warisan budaya, kegiatan di Negeri Hila menempatkan alam dan budaya sebagai dua sisi yang tidak dipisahkan dalam pengembangan pariwisata daerah.

Reporter: Kaharuddin Yusuf
Sumber: potretmaluku.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top