HALMAHERA BARAT — Gunung Ibu kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan. Berdasarkan laporan resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, erupsi terjadi pada pukul 09.24 WIT dengan durasi sementara mencapai 4 menit 1 detik. Getaran erupsi terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 28 milimeter.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, dalam keterangan yang diterima di Jakarta, menyebutkan bahwa kondisi ini masih dalam status Level II atau Waspada. Meski belum dinaikkan ke level Siaga, masyarakat di sekitar gunung diminta untuk tidak lengah.
Apa Saja Larangan yang Berlaku?
Badan Geologi mengeluarkan rekomendasi ketat bagi warga dan wisatawan. Tidak ada aktivitas yang diizinkan dalam radius dua kilometer dari kawah aktif. Larangan itu diperluas secara sektoral hingga 3,5 kilometer ke arah bukaan kawah di bagian utara.
Ancaman Hujan Abu dan Imbauan Kesehatan
Lana mengimbau warga yang beraktivitas di luar rumah untuk menggunakan masker dan kacamata pelindung. Langkah ini penting untuk mengantisipasi gangguan pernapasan dan iritasi mata jika hujan abu vulkanik turun.
"Gunakan pelindung hidung, mulut (masker), dan pelindung mata (kacamata) apabila beraktivitas di luar rumah saat terjadi hujan abu vulkanik," kata Lana dalam pernyataan resminya.
Jangan Percaya Narasi Bohong
Badan Geologi juga meminta semua pihak menjaga suasana tetap kondusif. Masyarakat diminta tidak menyebarkan narasi bohong dan tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak jelas sumbernya terkait aktivitas vulkanik Gunung Ibu.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat diharapkan terus berkoordinasi dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau Pos Pengamatan Gunung Ibu di Gam Ici. Data terkini bisa diakses masyarakat melalui aplikasi Magma Indonesia milik pemerintah.
Gunung Ibu memiliki ketinggian 2.125 meter di atas permukaan laut. Erupsi kali ini menjadi pengingat bahwa kawasan ini masih dalam fase aktif dan perlu diwaspadai secara berkala.