Pencarian

Transisi Energi Hijau di Maluku: Tenaga Ahli Menteri ESDM Dorong Dedieselisasi PLTD di Pulau Terpencil

Rabu, 03 Juni 2026 • 13:58:01 WIB
Transisi Energi Hijau di Maluku: Tenaga Ahli Menteri ESDM Dorong Dedieselisasi PLTD di Pulau Terpencil
Tenaga Ahli Menteri ESDM dorong dedieselisasi PLTD di pulau terpencil Maluku untuk percepat transisi energi hijau.

JAKARTA — Tenaga Ahli Menteri ESDM Satya Hangga Yudha Widya Putra menekankan urgensi pencapaian target transisi energi hijau guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Hal ini disampaikannya saat menjadi pemateri utama dalam seminar nasional "Electric Vehicle Technology and Battery Acceleration Talk (ELECTRA) 2026" yang digelar di Jakarta, Selasa (2/6/2026).

Apa Saja Dampak Langsung bagi Warga di Pulau Terpencil?

Menurut Hangga, sektor industri dan transportasi merupakan kontributor emisi karbon terbesar. Untuk mengatasinya, Kementerian ESDM menyinkronkan program nasional, termasuk melanjutkan program dedieselisasi pembangkit listrik di pulau terpencil.

Program ini bertujuan menggantikan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang kurang ramah lingkungan dengan energi baru dan terbarukan (EBT). Di Maluku, yang terdiri dari ribuan pulau, program ini menjadi krusial bagi masyarakat yang belum mendapatkan akses listrik memadai.

Bagaimana Nasip Program Listrik Desa dan Bantuan Pasang Baru?

Hangga memaparkan, selain dedieselisasi, Kementerian ESDM juga melanjutkan program bantuan pasang baru listrik (BPBL) dan program listrik desa (lisdes) berbasis energi surya. “Penting untuk menekan emisi dengan energi hijau,” ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa Politeknik STMI Jakarta.

Program-program ini dirancang untuk menjangkau daerah terpencil yang selama ini bergantung pada genset diesel. Dengan beralih ke panel surya, biaya operasional listrik diharapkan lebih murah dan pasokan lebih stabil bagi warga di Maluku.

Mengapa Kendaraan Listrik Jadi Solusi di Tengah Kemacetan?

Hangga juga mencontohkan penggunaan kendaraan listrik di tengah kemacetan, seperti di Jakarta, yang mampu menghemat biaya bahan bakar secara signifikan dibandingkan Pertalite maupun Pertamax. Ia mendorong pemanfaatan transportasi umum massal seperti Transjakarta, KRL, dan MRT sebagai moda mobilisasi harian yang lebih hemat dan ramah lingkungan.

Tenaga Ahli Menteri ESDM itu memastikan pihaknya terus bekerja agar sumber energi kendaraan listrik berasal dari pembangkit EBT, bukan fosil. Saat ini, kepemilikan kendaraan listrik di Indonesia tercatat lebih dari 350.000 unit, dengan mayoritas roda dua dan tren positif pertumbuhan roda empat dengan harga terjangkau.

Bagaimana Pengelolaan Limbah Baterai Kendaraan Listrik?

Aspek pengelolaan limbah dan daur ulang baterai litium kini menjadi fokus yang sedang dipetakan serius di Indonesia. Hangga menegaskan hal ini penting untuk memastikan siklus hidup kendaraan listrik benar-benar bersih dan berkelanjutan dari hulu ke hilir.

Dengan berbagai program ini, pemerintah menargetkan ketahanan energi nasional yang lebih kuat, sekaligus mendukung visi besar Presiden RI dalam transisi energi hijau di seluruh Indonesia, termasuk di Maluku.

Bagikan
Sumber: ambon.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks