Pencarian

Bukan Sekadar Adu Pukul, Ini Makna di Balik Tradisi Pukul Sapu di Mamala dan Morella, Ambon

Jumat, 05 Juni 2026 • 19:13:01 WIB
Bukan Sekadar Adu Pukul, Ini Makna di Balik Tradisi Pukul Sapu di Mamala dan Morella, Ambon
Pemuda Mamala dan Morella melakukan tradisi Pukul Sapu sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan persaudaraan.

AMBON — Aroma belerang bercampur minyak kelapa menyengat di bawah terik matahari Maluku. Riuh penonton tiba-tiba senyap saat dua kelompok pemuda berdiri berhadapan. Tubuh mereka hanya dilindungi celana pendek dan ikat kepala kain merah bernama lestari. Di tangan kanan, seikat lidi dari pohon enau tergenggam erat. Begitu peluit ditiup dan tifa bertalu, atmosfer meledak.

Syat! Syat! Tar! Suara cambukan lidi menghantam kulit telanjang terdengar solid. Darah segar merembes di punggung dan dada. Namun, tak ada jeritan kesakitan. Yang terdengar justru sorak-sorai penuh gairah. Ini bukan pertikaian berdarah, melainkan ritual sakral yang merayakan keberanian, persaudaraan, dan keajaiban penyembuhan.

Akar Sejarah: Dari Benteng Kapahaha hingga Ritual Sakral

Untuk memahami mengapa para pemuda ini sukarela menyerahkan tubuhnya dicambuk, kita harus kembali ke abad ke-17. Tradisi Pukul Sapu bukan sekadar tontonan adrenalin. Ia adalah monumen ingatan atas perjuangan masyarakat Leihitu melawan VOC Belanda.

Kisah ini bermula setelah jatuhnya Benteng Kapahaha pada 1646, benteng pertahanan terakhir yang dipimpin Kapitan Telukabessy. Para pejuang yang selamat ditangkap Belanda. Untuk menandai berakhirnya perang dan menguji kesetiaan, mereka menggelar permainan ketangkasan menggunakan sapu lidi dari pohon enau.

Seiring waktu, latihan fisik para pejuang itu berevolusi menjadi ritual adat sakral. Tradisi ini digelar setiap 7 Syawal, hari kemenangan di mana leluhur merayakan identitas dan persaudaraan yang tak bisa dihancurkan peluru kolonial.

Dua Desa, Dua Minyak Ajaib: Mamala dan Morella

Meski bertetangga dekat, Negeri Mamala dan Negeri Morella menggelar tradisi ini secara terpisah di desa masing-masing. Uniknya, ritual ini juga menjadi panggung pembuktian dua jenis minyak penyembuh legendaris di Maluku.

Di Negeri Mamala, ritual terkait erat dengan sejarah penemuan minyak kelapa murni bernama Minyak Mamala (Minyak Nyora). Konon, minyak ini diramu leluhur berdasarkan petunjuk gaib untuk menyembuhkan luka pejuang dengan cepat. Sementara di Negeri Morella, mereka menggunakan Minyak Tasala.

Khasiat kedua minyak ini bukan mitos belaka. Sesaat setelah ritual selesai, luka menganga di tubuh peserta diolesi minyak-minyak tersebut. Dalam hitungan hari, luka robek akibat hantaman lidi enau mengering tanpa meninggalkan bekas cacat atau infeksi.

Prosesi Ritual: Bukan Sekadar Cambuk Tanpa Aturan

Pukul Sapu memiliki tata cara adat ketat. Puluhan pemuda dari masing-masing desa dibagi menjadi dua kelompok: berbaju merah dan berbaju hijau/putih. Sebelum memasuki lapangan, mereka mengikuti prosesi ritual di rumah adat (Baileo) untuk mendapat restu tetua adat dan memohon perlindungan.

Suasana magis terasa ketika doa-doa dipanjatkan, memanggil semangat para leluhur (kapitan). Pertunjukan dimulai dengan tarian tradisional seperti Tari Jopo dan Tari Cakalele sebagai pemanasan. Setiap pemuda berpasangan satu lawan satu, bergantian memukul punggung atau dada lawan menggunakan seikat lidi enau.

Aturannya sederhana namun menuntut nyali besar: ketika satu orang memukul, yang lain harus berdiri tegak, membusungkan dada, menerima hantaman tanpa menghindar atau membalas. Tar! Serpihan lidi patah berterbangan. Kulit memerah dan mengeluarkan darah. Namun, yang terlihat bukan tatapan amarah, melainkan respek mendalam. Mereka berbagi rasa sakit yang sama, seperti yang dirasakan para pejuang di masa lalu.

Bagikan
Sumber: ambontoday.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks