Pencarian

Bom Ikan dan Potas Makin Marak di Selat Buano, Dua Spesies Kerapu Menghilang, Sasi Didorong Kembali

Sabtu, 06 Juni 2026 • 21:15:31 WIB
Bom Ikan dan Potas Makin Marak di Selat Buano, Dua Spesies Kerapu Menghilang, Sasi Didorong Kembali
Nelayan di Selat Buano kesulitan menemukan kerapu tikus dan kerapu macan akibat penurunan populasi.

SERAM BAGIAN BARAT — Ancaman terhadap ekosistem laut di Maluku kembali mencuat. Perairan Selat Buano yang ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan sejak 2021, justru menjadi medan rusaknya habitat biota laut akibat ulah manusia. Ledakan bom ikan dan racun potas disebut sebagai biang keladi utama.

Kerapu Tikus dan Kerapu Macan Mulai Sulit Ditemukan Nelayan

Abdullah Leurima menyebut penurunan populasi dua spesies ikan demersal sudah terdeteksi sejak awal 2000-an. “Sejak 2000, populasi kerapu tikus mengalami degradasi hingga penurunan drastis pada 2007. Saat ini, ikan sulit ditemukan oleh nelayan,” jelasnya dalam forum diskusi di Kantor Negeri Waesala, Selasa (2/6/2026).

Nasib serupa menimpa kerapu macan. Stok ikan dengan nama ilmiah Brown-marbled grouper ini mulai menyusut sejak 2021. Berdasarkan pengakuan nelayan pancing rawai pada 2025, hasil tangkapan kerapu tikus turun sangat besar. “Meski saat ini nelayan masih dapat kerapu tikus, ikan ini baru akan ditemukan di perairan yang sama 9 bulan kemudian,” ungkap Abdullah.

Konservasi 31 Ribu Hektare Terancam Eksploitasi Instan

Padahal, Perairan Selat Buano memiliki nilai strategis. Kawasan konservasi seluas 31.886,86 hektare ini mencakup wilayah Buano Utara dan Selatan, dengan 595 hektare terumbu karang yang menjadi tempat pemijahan ikan. Namun, praktik penangkapan destruktif justru menggerogoti fungsi ekologis perairan tersebut.

Mayoritas peserta forum yang digelar di Negeri Waesala, Kecamatan Huamual Belakang, mengakui bahwa penggunaan bom dan potas kian sering terjadi. Mereka mendorong pengelolaan kolaboratif dan penguatan kembali sasi sebagai benteng konservasi.

TFCCA dan Konsorsium SAHARI Dorong Dokumen Pengelolaan Kolaboratif

Upaya perlindungan diperkuat melalui program TFCCA yang dipimpin konsorsium Yayasan SAHARI bersama CTC dan KIRANIS. Program ini kini memasuki fase rancangan dokumen pengelolaan kolaboratif. Pada Selasa lalu, dokumen tersebut telah dibahas dengan melibatkan multi pihak di Kantor Negeri Waesala.

Abdullah Leurima tidak menampik bahwa penangkapan instan itu mengancam kesehatan ekosistem terumbu karang. Ia berharap dokumen yang tengah dirancang bisa menjadi landasan hukum dan sosial yang kuat untuk menekan praktik ilegal, sembari menghidupkan kembali kearifan lokal sasi yang terbukti efektif menjaga laut.

Bagikan
Sumber: potretmaluku.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks