Pencarian

Google Gugat Jaringan Penipuan AI China yang Raup Kerugian Rp 30 Triliun dari 3,8 Juta Kartu Kredit

Minggu, 14 Juni 2026 • 03:52:01 WIB
Google Gugat Jaringan Penipuan AI China yang Raup Kerugian Rp 30 Triliun dari 3,8 Juta Kartu Kredit
Google menggugat jaringan penipuan AI asal China yang mencuri data 3,8 juta kartu kredit.

MALUKU — Google mengumumkan gugatan terhadap jaringan penipuan siber Outsider Enterprise pada Jumat pekan lalu. Dalam dokumen pengadilan yang diajukan, raksasa teknologi ini mengungkap skala operasi yang luar biasa besar: dalam dua pekan saja, kelompok ini mengirimkan 2,5 juta SMS palsu ke pengguna Android. Angka itu setara dengan 55.000 laporan spam per menit yang masuk ke sistem Google.

Outsider Enterprise bukan sekadar kelompok peretas biasa. Mereka menjual software phishing siap pakai seharga USD 88 per pekan (sekitar Rp 1,4 juta) atau USD 200 per bulan (sekitar Rp 3,3 juta). Google menyebutnya sebagai "phishing-for-dummies" karena memungkinkan siapa pun—tanpa keahlian teknis—menjalankan serangan pencurian data. Platform ini bahkan memanfaatkan AI dari berbagai sumber, termasuk Gemini milik Google sendiri, untuk membuat situs palsu yang meyakinkan.

Kerugian Capai Rp 30 Triliun dan 3,8 Juta Kartu Kredit Bocor

FBI mengkonfirmasi angka kerugian yang mencengangkan. Juru bicara FBI kepada TechCrunch menyebutkan bahwa sejak Juli 2023, platform phishing Outsider Enterprise telah menyebabkan pencurian "setidaknya 3.870.000 kartu kredit" dengan kerugian diperkirakan mencapai USD 1,9 miliar. Google menambahkan bahwa 36.000 kartu pembayaran dari institusi keuangan di 95 negara telah dicuri oleh kelompok ini.

Modus operandi mereka tergolong rapi. Korban menerima SMS yang mengatasnamakan merek besar—mulai dari operator telekomunikasi, bank, hingga lembaga pemerintah. Pesan itu berisi tautan ke situs palsu yang tampak persis seperti aslinya. Begitu korban memasukkan password dan kode MFA (multi-factor authentication), data langsung dikirim secara real-time ke server penipu melalui platform Outsider.

Lebih dari 1 Juta Domain Palsu dan 9.000 Situs Phishing

Google mendeteksi lebih dari 1,59 juta URL terkait operasi Outsider Enterprise dalam periode November 2025 hingga April 2026. Totalnya, kelompok ini telah membuat 9.000 situs web palsu dan 1 juta domain penipuan. Software Outsider menyediakan "lebih dari 290 template siap pakai" yang meniru situs resmi berbagai perusahaan.

Yang membuat operasi ini unik adalah struktur organisasinya. Google mengungkapkan bahwa Outsider Enterprise terdiri dari beberapa sub-kelompok: pengembang software dan template, pemasok data target dari kebocoran data publik dan media sosial, grup spammer yang menyediakan infrastruktur pengiriman SMS massal (termasuk bank ponsel, kartu SIM, dan modem), serta pihak yang menguangkan data curian dan mencuci uang hasil kejahatan.

Google Gandeng FBI dan Operator Seluler AS

Google menyatakan telah bekerja sama dengan AT&T, T-Mobile, dan Verizon untuk memblokir pesan spam ini. FBI juga telah menyita beberapa domain serta akun Shopify yang digunakan untuk menguji layanan phishing. Google sendiri mengklaim menggunakan "alat bertenaga AI untuk melawan penipuan bertenaga AI" yang berhasil mencegat lebih dari 10 miliar pesan penipuan setiap bulan.

Dalam berkas gugatan, Google menggambarkan kelompok ini berkoordinasi secara terbuka melalui kanal Telegram tanpa enkripsi. "Para anggota Enterprise dengan berani mengoordinasikan upaya mereka dalam diskusi terbuka dan sebagian besar tidak terkode di Telegram," tulis Google. Mereka juga menggunakan Google Drive dan infrastruktur Google Cloud untuk menghosting situs phishing.

Bagi pengguna di Indonesia, kasus ini menjadi pengingat untuk selalu waspada terhadap SMS dari nomor tidak dikenal yang meminta data pribadi. Jangan pernah mengklik tautan dari pengirim yang tidak Anda kenal, dan aktifkan fitur perlindungan spam bawaan Android yang sudah ditingkatkan Google untuk memblokir pesan semacam ini.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks