AMBON — Kota Ambon masih berstatus "daerah dalam pembinaan" dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dalam urusan sampah. Lewat riset bertajuk Advancing an Equitable and Just Energy Transition in Ambon through Community-Based Waste Innovation and Inclusive Education, Pemkot mencoba mengubah sampah kota menjadi bahan bakar alternatif.
Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengatakan persoalan sampah di kota ini sudah sangat kompleks. "Kita sementara berada dalam tantangan yang luar biasa. Karena itu, tidak ada satu pihak pun yang mampu bekerja sendiri. Kita butuh kerja bersama," ujarnya dalam sambutan.
Teknologi MRF dan RDF Disiapkan untuk Kelola Sampah dari Hulu
Pemkot mulai mendorong pendekatan dari hulu, langsung dari sumber sampah. Dua teknologi yang disiapkan adalah Material Recovery Facility (MRF) untuk memilah sampah daur ulang, dan Refuse Derived Fuel (RDF) untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar padat.
RDF nantinya bisa dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk industri atau pembangkit listrik skala kecil di Ambon. Ini menjadi solusi atas gunungan sampah yang selama ini hanya berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Kolaborasi Lintas Sektor dan Internasional
Riset ini tidak dikerjakan sendiri oleh Pemkot. Mitra yang terlibat antara lain Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, Macquarie University Australia, Politeknik Negeri Ambon, dan Institut Tifa Damai Maluku. Komunitas lokal juga dilibatkan agar solusi yang lahir sesuai dengan kebutuhan warga.
Pendekatan berbasis komunitas menjadi kunci. Warga di kelurahan-kelurahan padat di Ambon akan diajak memilah sampah organik dan anorganik sejak dari rumah. Sampah yang sudah terpilah kemudian diolah di fasilitas MRF dan RDF yang direncanakan dibangun di beberapa titik strategis.
Apa Dampaknya Bagi Warga Ambon?
Jika berjalan sesuai rencana, proyek ini bisa mengurangi volume sampah yang dikirim ke TPA secara signifikan. Selain itu, warga yang terlibat dalam program pemilahan bisa mendapatkan insentif ekonomi dari hasil penjualan sampah daur ulang.
Riset ini juga membuka peluang bagi mahasiswa dan peneliti lokal untuk belajar langsung soal teknologi konversi sampah menjadi energi. Politeknik Negeri Ambon, misalnya, akan terlibat dalam pelatihan teknis pengoperasian MRF dan RDF.
Belum ada jadwal pasti kapan fasilitas pengolahan sampah itu mulai beroperasi. Namun, dengan dimulainya riset ini, Pemkot Ambon sudah mengambil langkah konkret keluar dari status "daerah binaan" sampah nasional.