Pencarian

Pulau Buru Jadi Benteng Terakhir Penyu Belimbing di Maluku, WWF dan Pemda Perkuat Konservasi Lewat Proyek TFCCA

Kamis, 18 Juni 2026 • 04:35:31 WIB
Pulau Buru Jadi Benteng Terakhir Penyu Belimbing di Maluku, WWF dan Pemda Perkuat Konservasi Lewat Proyek TFCCA
Pulau Buru menjadi lokasi penting konservasi penyu belimbing di Maluku.

AMBON — Pulau Buru tidak hanya dikenal sebagai lokasi pengasingan di masa lalu. Kini, pulau di Maluku itu menjadi salah satu benteng terakhir penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Indonesia. Spesies yang berstatus Critically Endangered menurut IUCN ini masih setia mendarat dan bertelur di pesisir utara Buru, tepatnya di Kecamatan Fena Leisela.

WWF Indonesia bersama pemerintah daerah memulai proyek TFCCA dengan kick-off di Desa Wamlana. Pertemuan itu mempertemukan pemerintah pusat, akademisi, dan kelompok masyarakat untuk menyelaraskan rencana kerja konservasi penyu dan ekosistem pesisir.

Pantai 14 Kilometer Jadi Rumah Empat Spesies Penyu

Inner Banda Arc Seascape Manager WWF Indonesia M. Budi Santosa menyebut pantai di Fena Leisela sebagai lokasi penting setelah Pantai Jamursba Medi di Papua Barat Daya. "Penyu belimbing memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. Jika tidak lagi ditemukan bertelur di habitat alaminya, itu bisa menjadi indikator terjadinya kerusakan lingkungan," ujarnya di Ambon, Rabu.

Selain penyu belimbing, pantai sepanjang 14 kilometer itu juga menjadi lokasi peneluran penyu lekang, penyu hijau, dan penyu sisik. Rata-rata 250 sarang ditemukan setiap tahun di kawasan tersebut.

Kawasan Konservasi Baru Butuh Penguatan Tata Kelola

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku Erawan Asikin mengatakan proyek TFCCA hadir di saat yang tepat. Kawasan Konservasi di Perairan Buru baru ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 69 Tahun 2025. "Kawasan konservasi tersebut masih membutuhkan penguatan tata kelola, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta sosialisasi kepada masyarakat terkait pengelolaan kawasan," jelasnya.

Menurut Erawan, proyek ini tidak hanya soal melindungi penyu. "Dengan proyek TFCCA ini, kita tidak hanya melindungi dan melestarikan penyu, tetapi juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat," ujarnya.

Kolaborasi Sejak 2017: Dari Monitoring hingga Edukasi Warga

WWF Indonesia tidak memulai dari nol. Sejak 2017, mereka bersama Kelompok Konservasi Penyu Sugiraja Watulu telah menjalankan program pemantauan populasi dan aktivitas peneluran, edukasi masyarakat, serta penguatan kapasitas kelompok konservasi setempat.

Melalui TFCCA, fokus diperluas ke peningkatan kapasitas pengelola kawasan konservasi, monitoring spesies laut dilindungi, dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi spesies Endangered, Threatened, and Protected (ETP). WWF menyebut kolaborasi lintas pihak diperlukan agar perlindungan penyu belimbing di Pulau Buru menjadi investasi jangka panjang untuk keberlanjutan ekosistem laut Maluku.

Bagikan
Sumber: ambon.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks