AMBON — Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 tingkat Provinsi Maluku pada Senin (29/6/2026) menjadi momentum bagi BKKBN untuk menyoroti fenomena fatherless yang dinilai mengkhawatirkan. Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Dr. Edi Setiawan, menyebut angka 22 persen tersebut berarti ayah mungkin hadir secara fisik, tetapi tidak terlibat secara emosional dalam pengasuhan anak dan pendampingan remaja.
Apa Itu Fatherless dan Mengapa Angkanya Capai 22 Persen?
Fatherless merujuk pada kondisi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran ayah yang aktif, baik karena perceraian, kematian, maupun ketidakterlibatan emosional. Di Maluku, data BKKBN menunjukkan 22 dari setiap 100 keluarga mengalami situasi ini. “Kita ingin mengembalikan peran ayah ke dalam keluarga, untuk ikut serta dalam pengasuhan terhadap anak dan pendampingan terhadap remaja,” kata Dr. Edi di halaman Kantor Gubernur Maluku.
Layanan Gratis untuk 100 Keluarga Berisiko Stunting
Peringatan Harganas kali ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Provinsi Maluku. Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, secara simbolis memberikan sembako kepada 100 keluarga berisiko stunting (KRS). Selain itu, berbagai pelayanan gratis digelar, mulai dari pelayanan KB, KTP Digital, hingga pemeriksaan kesehatan gratis.
Pemerintah juga memfasilitasi pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) secara gratis melalui Dinas PMD-PTSP Provinsi Maluku. Pameran dari UPPKA dan UMKM turut meramaikan acara yang digelar di pusat kota Ambon tersebut.
34 Akseptor KB Baru dari Lima Kecamatan
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan, sebanyak 34 akseptor KB baru tercatat dari lima kecamatan di Kota Ambon. Rinciannya, Kecamatan Nusaniwe mendominasi dengan 18 akseptor (17 implan dan 1 suntik), disusul Sirimau dengan 11 akseptor implan. Sementara itu, Kecamatan Leitisel dan Teluk Ambon masing-masing mencatat 4 dan 1 akseptor implan. Kecamatan Baguala tercatat nihil.
“Intinya, di hari keluarga ini kita ingin melayani keluarga-keluarga khususnya di Provinsi Maluku dan Kota Ambon dengan baik,” ujar Dr. Edi menegaskan komitmen BKKBN dalam menekan angka fatherless dan stunting secara bersamaan.